Kamis, 24 Okt 2019 10:36 WIB

4 Fakta Stunting, Salah Satu PR Utama Menkes Baru dr Terawan

Rosmha Widiyani - detikHealth
Foto: dr Terawan (Andhika Prasetia/detikcom) Foto: dr Terawan (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Salah satu tugas Menkes dr Terawan yang baru diangkat Presiden Jokowi adalah mengatasi stunting di Indonesia, di samping mengatasi carut-marutnya pengelolaan BPJS Kesehatan. Stunting mengakibatkan masalah jangka panjang, yang tak hanya merugikan anak tapi juga lingkungan di sekitarnya.

"Urusan stunting, industri kesehatan, pelayanan kesehatan dasar, kemudian juga tata kelola BPJS berada di wilayah beliau," kata Presiden Jokowi.



Stunting sebetulnya bukan masalah baru yang terjadi di Indonesia. Berikut 4 fakta soal stunting.

1. Stunting beda dengan sekadar pendek

Stunting dan pendek sama-sama mengakibatkan tubuh tidak bisa tumbuh lebih tinggi. Namun stunting pasti pendek, sedangkan pendek belum tentu stunting yang merupakan efek gagal tumbuh. Stunting diakibatkan kurang gizi di seribu Hari Pertama Kelahiran (HPK).

"Stunting itu kita istilahkan dengan perawakan pendek. Kalau anak pendek namanya short stature yang memang kerangkanya pendek entah dari gen atau keturunan, dan itu tidak dikategorikan stunting," tutur Dodi Azwari yang saat itu menjabat sebagai Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

2. Angka stunting

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka stunting turun menjadi 30,8 persen, dari yang sebelumnya 37,2 persen pada Riskesdas 2013. Meski begitu, angka ini masih lebih dari ketentuan badan kesehatan dunia WHO yang menetapkan stunting sebesar 20 persen.

"Kesehatan telah mengalami kemajuan terutama untuk stunting, saya harap data ini akan dijadikan untuk perbaikan ke depannya," kata Menteri Kesehatan yang saat itu dijabat Nila Moeloek.

Proporsi status gizi sangat pendek dan pendek paling tinggi terjadi di Nusa Tenggara Timur yang mencapai 42,6 persen. Sedangkan angka paling rendah adalah 17,7 persen di DKI Jakarta.



3. Penyebab stunting

Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, stunting diakibatkan kekurangan gizi dalam waktu lama sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak. Awal kehidupan anak dikenal sebagai 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Penyebabnya adalah rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak. Minimnya akses terhadap ASI eksklusif juga ikut memperbesar risiko terjadinya malnutrisi hingga terjadi gagal tumbuh.

4. Kerugian stunting

Badan yang tidak bisa tumbuh tinggi sebetulnya hanya satu risiko terjadinya gagal tumbuh atau stunting. Kerugian yang lebih besar adalah pertumbuhan fungsi dan organ tubuh yang seluruhnya terganggu, salah satunya otak yang berperan dalam kemampuan kognitif. Anak stunting berisiko tumbuh kurang pintar dibanding teman-temannya.

"Anak yang stunting jaringan otaknya cuma sedikit, sehingga dampaknya pada perkembangan otak dan bisa menyebabkan anak lama mencerna stimulus," kata dokter spesialis anak Dr dr Damayanti R Sjarif, SpA(K), dari Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

Stunting juga mengakibatkan anak memiliki sistem ketahanan tubuh atau daya imunitas yang buruk. Akibatnya anak lebih mudah mengalami penyakit infeksi atau penurunan fungsi tubuh misal diabetes. Hal ini mengakibatkan anak tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri, menjadi beban lingkungan sekitar, serta tidak bisa lepas dari jaringan kemiskinan dan kebodohan.



Simak Video "Dokter Terawan Jadi Menkes, IDI Hargai Keputusan Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)