Sabtu, 23 Nov 2019 13:05 WIB

Saat Remaja Bersahabat dengan Depresi dan Gangguan Jiwa

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pada usia remaja, masalah kesehatan mental kerap kali dikaitkan dengan kesetanan. (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Jakarta - Lintang tidak paham yang terjadi dengan dirinya. Sudah setahun terakhir dia tidak bisa fokus pada pelajaran. Nilainya merosot tajam.

Emosinya labil, naik turun. Bukan hanya itu. Yang lebih parah, remaja putri ini tidak jarang halusinasi. Seringkali ada suara yang berteriak teriak di telinganya, "elo orang nggak berguna. Lebih bagus mati saja!"

Lintang putus asa. Entah sampai kapan dia bisa bertahan.


Masa remaja dianggap periode emas dalam kehidupan. Tidak sedikit lagu, film, bahkan literatur yang meromantisasi remaja. Dianggap tangguh, selalu punya ide besar, visioner, bahkan 'pengguncang dunia'.

Tapi bagaimana jika masa itu diisi dengan hantu bernama gangguan jiwa? Telah banyak kisah sedih tentang remaja yang terpaksa menghentikan perjalanannya karena terkurung dan tak bisa lepas dari jeratan depresi.

Masalah kesehatan mental sudah menjadi perhatian dunia. Badan Kesehatan Dunia atau WHO dalam satu penelitiannya menyebut setiap 40 detik, ada satu orang di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri. Di Indonesia sendiri, angka kecenderungan depresi dan gangguan mental di penduduk usia 15 tahun keatas meningkat dari 6 persen di tahun 2013 menjadi 9,8 persen di 2018.


Kecenderungan angka ini akan terus meningkat seiring dengan kemunculan stigma yang disandingkan dengan mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental. Apalagi pada usia remaja, masalah kesehatan mental kerap kali dikaitkan dengan kesetanan, kesurupan, hanya mencari perhatian, galau dan labil.

"Pengabaian terhadap kerentanan ini dari orang tua atau keluarga, dengan sikap meremehkan atau menilai akan bisa dilalui oleh remaja akan semakin membuat mereka berpotensi mengalami gangguan mental," kata psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla.

Belum lagi anggapan kurang ibadah yang sering disematkan pada mereka. Hal ini sebetulnya yang menghambat mereka mencari pertolongan. Bisa terlihat dari kasus bunuh diri di usia remaja yang meningkat, imbas dari depresi yang tidak tertangani.

"Usia paling banyak melakukan bunuh diri itu generasi milenial, 15-29 tahun," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansyah, SpKJ, kepada detikcom.


Belum lagi, penanganan gangguan jiwa di Indonesia disebut sebagai yang terburuk di Asia Tenggara. Selain stigma, jumlah dokter atau tenaga medis untuk kesehatan jiwa seperti psikiatri juga masih minim.

Standar pelayanan yang ditetapkan WHO untuk jumlah tenaga psikiater dengan penduduk, yaitu 1:30 ribu orang. Sayangnya di Indonesia, cakupan pelayanan psikiater adalah 1:300 ribu jiwa, karena hanya memiliki 800 psikiater.

Pelatihan bagi guru BK

Ali sudah lebih 20 tahun berprofesi sebagai guru BK. Ia mengakui tantangan terbesar yang kadang menghampirinya adalah masih banyak yang menganggap guru BK sangar dan galak, hanya untuk mengatasi anak 'bermasalah'.

"Padahal muka saya nggak kayak preman lho," kelakarnya.

Beruntung pada tahun 2016 lalu sudah ada pelatihan yang diberikan bagi guru BK oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, tentang menangani remaja yang mengalami masalah kesehatan mental. Menurut Ali, beberapa tahun belakangan pun makin banyak siswa yang mendatanginya untuk sekadar berkonsultasi atau curhat.

"Kalau ringan, masih tertangani. Tapi kalau sudah berat, tetap diberi konseling tapi bersama orang tua atau keluarganya," sebut Ali.

Pelatihan bagi guru BK sudah menjadi program yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan sejak beberapa tahun lalu. Fidiansyah menyebut targetnya adalah agar semua guru BK mampu mengatasi gangguan kecemasan dan gejala depresi ringan yang dialami oleh para siswanya.

"Kalau provinsi, semua sudah terpenuhi. Kita melatih guru dari 34 provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Setelah itu, tiap provinsi akan mengarahkan lagi," tutur dr Fidiansyah.

Meski demikian, masih belum ada data pasti berapa jumlah sekolah dan guru BK yang mendapat pelatihan tersebut. Kementerian Kesehatan menyebut pihaknya tidak bisa memberi target, yang penting semua provinsi sudah dilatih.



Simak Video "Studi Sebut Pasien Sembuh Corona Alami Gangguan Kejiwaan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/wdw)