Kamis, 30 Apr 2020 14:45 WIB

Butuh Relawan! RSCM Sedang Teliti Plasma Darah untuk Sembuhkan Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Terapi plasma darah ramai diperbincangkan masyarakat. Donor plasma darah dari pasien sembuh COVID-19 disebut dapat bantu penyembuhan pasien Corona lainnya. Donor plasma darah dipercaya bisa memberikan kekebalan terhadap virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/Alexander Hassenstein)
Jakarta -

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, membenarkan tim peneliti Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) akan menguji 'terapi plasma darah' untuk pasien Corona. Namun ia menegaskan terapi tersebut ditujukan untuk pasien Corona dengan gejala berat atau kritis dan merupakan terapi alternatif.

"Jadi ini sebenarnya terapi alternatif pada kasus-kasus yang berat, kasus-kasus yang membutuhkan ventilator, kan dalam perjalanannya tuh kan pasien tuh dia oke ada yang ringan, sedang, dan berat, kan," tegasnya saat dihubungi detikcom, Kamis (30/4/2020).

"Umumnya kan pasien tuh gejalanya ringan sekitar 80 persen, 70 persen, kemudian ada yang sedang dan berat. Nah yang berat ini lah perlu artinya terapi alternatif lah, tetapi bukan juga mengada-ngada, karena di luar juga ada beberapa kasus (Corona) yang berat ini juga sudah mulai dikerjakan (terapi plasma darah). Ini sebenarnya diambil dari orang yang sudah terbentuk antibodi, diharapkan antibodi yang sudah membentuk di pasien sembuh ini lah yang memperkuat si tubuh orang yang dalam keadaan sakit berat itu," ungkapnya.

Prof Ari pun menegaskan teknik seperti terapi plasma darah ini bukan sesuatu hal yang baru. Pada beberapa pasien yang mengalami gangguan dengan antibodi sebelumnya juga dilakukan terapi yang serupa.

"Tetapi teknik ini tuh bukan teknik yang baru, itu sudah biasa dilakukan di kita, misalnya ada pasien dengan kelainan antibodi. Tetapi komponennya beda, ada berapa komponen yang diambil, nah ini justru plasma darahnya itu antibodinya gitu lho, jadi ini tuh sesuatu yang sudah rutin dikerjakan," kata prof Ari.

Disinggung terkait berapa lama proses uji klinis terapi plasma darah, prof Ari mengaku akan dilakukan dan diselesaikan secepatnya. Mengingat uji klinis tersebut sudah mengantongi izin komite etik.

"Iya ini lagi mencari sampel, lagi pasien yang bersedia, pasien-pasien yang sudah berat sih sudah ada," ujarnya.

"Iya secepatnya karena izin komite etiknya sudah keluar, pokoknya kalau sudah ada sampel diambil plasmanya, bisa diberikan ke pasien, ya tapi kan ini uji klinis ini nanti kalau setelah beberapa sampel baru bisa dipublish, kalau 1 atau 2 belum bisa," katanya mengakhiri pembicaraan.



Simak Video "Respons Kekebalan yang Diharapkan dari Vaksinasi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)