Jumat, 15 Mei 2020 03:53 WIB

Mungkinkah 'Berdamai' dengan Corona?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Presiden RI Joko Widodo sebelumnya mengimbau masyarakat untuk berdamai dengan virus Corona COVID-19. Jokowi menilai setidaknya sikap ini perlu dilakukan sampai vaksin virus Corona COVID-19 akhirnya ditemukan.

"Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan COVID untuk beberapa waktu ke depan," ujar Jokowi lewat saluran YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (7/5/2020).

Meski demikian, narasi Jokowi dipahami berbeda oleh publik. Ada yang menyebut hal ini cenderung menyepelekan, adapula yang mengartikan sebagai kiasan. Berikut 5 fakta di balik pernyataan Jokowi soal 'berdamai dengan Corona', dirangkum detikcom pada Kamis (14/5/2020).

Maksud Berdamai dengan Corona

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan masyarakat dapat mencegah penularan virus Corona COVID-19 meski antivirus belum ditemukan. Frasa 'hidup berdamai' diartikan sebagai penyesuaian baru dalam tatanan kehidupan.

"COVID-19 memang belum ada antivirusnya, tapi kita bisa mencegah tertular COVID-19. Ya artinya jangan kita menyerah, hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal, tatanan kehidupan baru," kata Bey saat dimintai konfirmasi, Jumat (8/5/2020).

Hanya Kiasan

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM UI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH, mengatakan bahwa istilah berdamai dengan Corona merupakan kiasan.

"Misalnya kaitannya dengan flu burung misalnya kan, flu burung kan kita bisa ya ada di sekitar kita gitu, jadi menurut saya sebelum ada vaksin dan obat kita tidak bisa lepas dari Corona ini, walaupun kita lockdown," ungkap prof Ascobat saat dihubungi detikcom Kamis (14/5/2020).

"Artinya kita berdamai itu ya pola hidup kita dirubah, kebiasaan-kebiasaan yang lalu seperti kita kumpul-kumpul ya harus kita kurangi, apalagi kalau misalnya konser, sepakbola, Tarawih saja kita nggak bisa," lanjutnya.

Syarat 'Berdamai' dengan Corona

"Pakai masker, hindari kontak dengan jaga jarak ya, kemudian jaga kesehatan tingkatkan imunitas, sekali-kali periksa bisa rapid test, isolasi diri," sebut Prof Ascobat.

Prof Ascobat menjelaskan kenyataannya virus Corona COVID-19 lebih berbahaya dibandingkan SARS dan flu burung. Ia menyebut temuan hasil autopsi di Italia menunjukkan bahwa virus Corona tak hanya menyerang paru-paru.

"Artinya ya apa boleh buat kita harus menerima kenyataan itu, saya kira itu maksudnya berdamai itu, apalagi sekarang ketauan ya penemuan autopsi di Italia itu ternyata bukan hanya menghantam paru-paru, tetapi juga ada pembekuan jantung dimana mana di ginjal gitu ya, lebih dahsyat dari SARS atau flu burung, ya suka gak suka, kenyataannya seperti itu, jadi kita harus menyesuaikan diri dengan kenyataan," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2