Rabu, 01 Jul 2020 13:02 WIB

Ini 7 Alasan Virus G4 Berpotensi Jadi Pandemi

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Kenaikan Harga Daging Babi Akibat Wabah Picu Inflasi Ritel di Cina Virus G4 ditemukan pada sampel usap hidung babi di peternakan. (Foto ilustrasi: DW News)
Topik Hangat Virus Baru G4
Jakarta -

Varian baru dari virus flu babi H1N1 ditemukan oleh para peneliti di China. Virus ini diberi kode G4 EA H1N1 atau disebut virus G4 dan berpotensi jadi pandemi.

Virus G4 ditemukan setelah para ilmuwan menganalisis hampir 30 ribu swab hidung babi di 10 provinsi berbeda di China dari tahun 2011 hingga 2018. Bahkan, tes antibodi menemukan sekitar 10,4 persen pekerja di industri babi dan 4,4 persen populasi umum tampaknya telah terinfeksi virus tersebut.

Dikutip dari jurnal Proceeding of National Academic of Science (PNAS), berikut 7 alasan mengapa virus G4 berpotensi jadi pandemi.

1. Virus G4 sudah beredar di populasi babi di China

Dari tahun 2011-2013 varian yang paling umum ditemukan dari virus flu EA H1N1 di sampel lendir hidung babi di China adalah strain genotipe 1 (G1). Tetapi, mutasi pada strain ini akhirnya menyebabkan munculnya varian genotipe 4 (G4).

Setiap tahun sejak 2014, virus G4 menjadi semakin umum ditemukan di antara populasi babi di China.

2. Virus G4 dapat melekat di reseptor yang mirip dengan manusia

Menurut studi PNAS, dalam uji laboratorium peneliti menemukan bahwa virus G4 dapat melekat di reseptor SAα2,6Gal yang mirip dengan reseptor yang ada pada manusia.

SAα2,6Gal adalah reseptor yang berada di sel lapisan saluran pernapasan manusia. Jika melekat di reseptor, virus akan mudah masuk ke dalam sel-sel lainnya pada tubuh manusia.

3. Virus G4 dapat melekat di jaringan kerongkongan manusia

Para peneliti mendapati virus G4 dapat melekat pada sel yang melapisi trakea atau kerongkongan. Trakea menghubungkan berbagai organ penting dalam tubuh termasuk paru-paru.

4. Virus G4 dapat menginfeksi sel epitel saluran napas manusia

Studi PNAS menemukan, virus G4 dapat menginfeksi sel-sel epitel yang melapisi bronkus dan alveoli di paru-paru. Bahkan, virus ini dapat membelah diri dengan cepat di dalam sel-sel tersebut.

5. Virus G4 dapat menular melalui droplet atau kontak langsung

Eksperimen pada ferret (sejenis musang) mendapati virus G4 dapat menular melalui droplet atau percikan yang keluar saat batuk dan bersin. Penelitian dilakukan dengan menempatkan ferret yang telah terinfeksi virus G4 dengan yang masih sehat pada satu wadah yang sama.

Hasilnya menunjukkan, ferret yang sehat bisa langsung terinfeksi, yang menandakan virus G4 dapat menular melalui kontak langsung.

Percobaan lain pun dilakukan, yakni memisahkan ferret yang terinfeksi dengan yang tidak. Tetapi, kandang mereka ditempatkan secara berdekatan.

Hasilnya, ferret yang sehat tetap tertular virus G4, yang menandakan virus ini dapat menular melalui droplet.

6. Vaksin flu tidak ampuh mencegah infeksi virus G4

Studi PNAS menjelaskan, vaksin flu yang ada saat ini tidak dapat mengatasi virus G4. Sehingga perlu vaksin baru untuk mencegah penyebaran virus ini.

Laporan di PNAS menyebut proses pembuatan vaksin virus G4 tak akan sesulit mengembangkan vaksin Corona. Sebab, virus ini bukanlah penyakit yang benar-benar baru seperti COVID-19.

7. Sudah ada manusia yang terinfeksi virus G4

Berdasarkan pengumpulan sampel darah dari tahun 2016-2018 di China, sebanyak 10,4 persen pekerja di industri babi di 15 peternakan berbeda dan 4,4 persen populasi umum memiliki antibodi terkait virus G4. Artinya, kemungkinan mereka pernah terinfeksi virus ini.

Baca juga



Simak Video "WHO: Virus Flu Babi G4 di China Bukan Virus Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)
Topik Hangat Virus Baru G4