Kamis, 02 Jul 2020 14:34 WIB

Kata Pakar UGM Soal Terapi Konvalesen, Alternatif Pengobatan Corona

Tim detikcom - detikHealth
Terapi plasma darah ramai diperbincangkan masyarakat. Donor plasma darah dari pasien sembuh COVID-19 disebut dapat bantu penyembuhan pasien Corona lainnya. Ilustrasi plasma darah. (Foto: Getty Images/Alexander Hassenstein)
Yogyakarta -

Terapi plasma darah atau terapi konvalesen (convalescent) saat ini disebut menjadi salah satu terapi alternatif dalam mengobati pasien positif virus Corona atau COVID-19 di sejumlah negara. Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) dr Sumardi, Sp PD,KP, FINASIM, mengatakan bahwa terapi ini telah lama digunakan sebagai metode pengobatan penyakit akibat infeksi.

Sumardi mengatakan terapi ini digunakan misalnya saat pandemi Flu Spanyol pada tahun 1900-an. Selain itu juga pengobatan difteri, flu burung, flu babi, ebola, SARS, dan MERS.

Dalam pengobatan pasien virus Corona, kata Sumardi, terapi dilakukan dengan menggunakan plasma darah pasien positif Corona yang sudah sembuh. Plasma darah yang terdapat antibodi tersebut ditransfusikan ke pasien Corona yang masih sakit.

"Jadi plasma darah yang mengandung antibodi dari pasien yang sembuh diberikan pada orang-orang yang masih sakit," jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikirim Humas UGM, Rabu (1/7/2020).

Namun begitu, lanjut Sumardi, terapi plasma konvaselen ini masih terbatas untuk uji klinik. Demikian halnya dengan virus Corona yang digunakan di beberapa negara masih sebatas uji klinis, termasuk di Indonesia. Keberhasilan terapi ini juga masih terbatas pada jumlah pasien yang sedikit.

Sumardi memberi contoh di rumah sakit Shenzhen, China. Dalam terapi plasma konvaselen yang dilakukan pada 5 pasien Corona dengan alat bantu pernapasan/ventilator, dilaporkan dapat mempercepatan penyembuhan 1 orang pasien. Sementara tiga orang lainnya menunjukkan proses penyembuhan yang tergolong lambat dan 1 orang meninggal dunia.

Sumardi menjelaskan terdapat sejumlah syarat khusus yang harus dipenuhi untuk melakukan transfusi konvaselen, di samping syarat umum untuk transfusi darah. Syarat khusus tersebut salah satunya pendonor merupakan pasien positif Corona yang telah dinyatakan sembuh. Berikutnya, pendonor harus terbukti memiliki antibodi terhadap Corona dalam kadar yang cukup.

"Plasma yang diambil sekitar 400 milimeter dengan memakai metode plasmapheresis yakni hanya mengambil plasma dari sel darah merah saja. Pemberian plasma darah ini sebanyak 2 kali sehari pada pasien COVID-19," terangnya.

Pengambilan plasma, disebutkan Sumardi lebih baik dilakukan pada pendonor yang merupakan pasien Corona yang sudah sehat dan berjenis kelamin laki-laki karena tidak memiliki antigen HLA. Sebab antigen HLA dapat menimbulkan reaksi atau masalah bagi penerima donor.

Sumardi melanjutkan terapi plasma konvaselen tidak diberikan kepada semua pasien positif Corona. Terapi ini hanya diberikan untuk pasien dengan gejala berat atau kondisi kritis.

"Diberikan pada pasien dengan gejala berat untuk membantu mempercepat penyembuhan, bukan untuk pencegahan. Namun terapi plasma konvaselen ini menjadi alternatif pengobatan hingga ditemukan vaksin," pungkasnya.



Simak Video "Data Terbaru: Top 30 Negara Teraman dari COVID-19, Tak Ada Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)