Selasa, 04 Agu 2020 12:45 WIB

Meski Gunakan APD, Tenaga Medis Tiga Kali Lebih Berisiko Terinfeksi Corona

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pengelolaan limbah medis COVID-19 jadi hal penting guna cegah pencemaran. Limbah medis tersebut dikumpulkan petugas untuk kemudian dimusnahkan. Petugas medis yang gunakan APD lengkap. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Bagi para petugas medis yang berjuang melawan COVID-19, alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, baju hazmat, face shield, dan masker N95 jadi atribut yang sangat penting. Ini berguna agar mereka tidak terkontaminasi virus saat merawat para pasien yang terinfeksi virus Corona.

Namun, sebuah penelitian menunjukkan atribut tersebut ternyata belum cukup untuk melindungi mereka dari virus. Para petugas medis ini masih lebih berisiko tertular virus dibandingkan masyarakat umum lainnya.

"Sekitar 20 persen petugas atau tenaga medis yang berada di garis depan setidaknya mengalami satu gejala yang terkait dengan virus Corona COVID-19 ini, dibandingkan 14,4 persen masyarakat umum. (Gejalanya) Kelelahan, kehilangan bau atau rasa, dan suara serak sering terjadi," tulis para peneliti, dikutip dari CNN.

Para peneliti ini menggunakan aplikasi COVID Symptom Tracker, yang berfungsi untuk mempelajari data lebih dari 2 juta orang. Itu termasuk para petugas medis di garda depan COVID-19 di Amerika Serikat dan Inggris yang jumlahnya hampir 100.000 orang, antara 24 Maret dan 23 April.

Dari penelitian itu, didapatkan bahwa para petugas medis yang berada di garis depan bisa 3 kali lebih mungkin terinfeksi COVID-19. Meskipun perlengkapan perlindungan diri sudah dipakai dengan baik.

"Data itu dengan jelas mengungkapkan bahwa masih ada peningkatan risiko terinfeksi virus Corona, meskipun para petugas medis itu telah menggunakan perlengkapan APD dengan lengkap," kata profesor King's College London sekaligus penulis studi, Sebastian Ourselin.

Ourselin juga menemukan saat sebagian petugas medis melaporkan kekurangan APD, mereka terpaksa harus menggunakan kembali perlengkapan yang sudah pernah digunakan sebelumnya.

Bahkan studi sebelumnya pun menemukan bahwa 10 sampai 20 persen infeksi virus Corona terjadi pada petugas medis yang berjuang melawan virus itu di garis depan.

"Studi kami memberikan penilaian yang lebih tepat tentang besarnya peningkatan risiko infeksi di kalangan petugas medis dibandingkan dengan masyarakat umum," ujar Dr Andrew Chang, direktur epidemiologi kanker di Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Chang menambahkan saat studi itu dilakukan, penyedia layanan medis di Amerika Serikat tengah mengalami kekurangan perlengkapan APD, seperti sarung tangan, baju hazmat, dan masker. Tetapi, mungkin dari penelitian yang serupa saat ini bisa mendapatkan hasil berbeda.



Simak Video "Mengenal APD yang Dibutuhkan Tenaga Medis Saat Lawan Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)