Rabu, 12 Agu 2020 10:53 WIB

Uji Klinis Tak Lengkap, Vaksin Corona Rusia 'Sputnik V' Menuai Kritik

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
In this handout photo taken on Thursday, Aug. 6, 2020, and provided by Russian Direct Investment Fund, a new vaccine is on display at the Nikolai Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology in Moscow, Russia. Russia on Tuesday, Aug. 11 became the first country to approve a coronavirus vaccine for use in tens of thousands of its citizens despite international skepticism about injections that have not completed clinical trials and were studied in only dozens of people for less than two months. (Alexander Zemlianichenko Jr/ Russian Direct Investment Fund via AP) Vaksin Corona Rusia menuai kritikan. (Foto: AP/Alexander Zemlianichenko Jr)
Topik Hangat Vaksin Corona Rusia
Jakarta -

Pengumuman oleh Rusia pada Selasa (11/8/2020) yang menyatakan mereka akan menyetujui penggunaan vaksin Corona dengan hanya melakukan pengujian selama kurang dari dua bulan memicu kekhawatiran para ahli kesehatan global. Para ahli menyebut tanda data uji coba lengkap, vaksin yang diberi nama 'Sputnik V' itu sulit dipercaya keamanannya.

Bermaksud menjadi yang pertama dalam perlombaan global untuk mengembangkan vaksin melawan penyakit pandemi, Rusia belum melakukan uji coba skala besar yang akan menimbulkan risiko serius.

"Rusia pada dasarnya melakukan percobaan di tingkat populasi yang lebih besar. Persetujuan super cepat seperti itu dapat berarti bahwa potensi efek merugikan dari vaksin mungkin tidak terdeteksi," kata Ayfer Ali, seorang spesialis dalam penelitian obat-obatan di Sekolah Bisnis Warwick Inggris dikutip dari Channel News Asia.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan vaksin yang dikembangkan oleh Institut Gamaleya Moskow itu aman dan telah diberikan kepada salah satu putrinya.

In this handout photo taken on Thursday, Aug. 6, 2020, and provided by Russian Direct Investment Fund, a new vaccine is on display at the Nikolai Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology in Moscow, Russia. Russia on Tuesday, Aug. 11 became the first country to approve a coronavirus vaccine for use in tens of thousands of its citizens despite international skepticism about injections that have not completed clinical trials and were studied in only dozens of people for less than two months. (Alexander Zemlianichenko Jr/ Russian Direct Investment Fund via AP)Vaksin Corona 'Sputnik V' Foto: AP/Alexander Zemlianichenko Jr

Francois Balloux, seorang ahli di Institut Genetika Universitas College London, mengatakan itu adalah 'keputusan yang sembrono dan bodoh'.

"Vaksinasi massal dengan vaksin yang diuji secara tidak tepat tidak etis," sebut Balloux.

Persetujuan vaksin Rusia oleh Kementerian Kesehatan dilakukan sebelum uji coba yang biasanya melibatkan ribuan peserta, umumnya dikenal sebagai uji coba Fase III.

Uji coba semacam itu biasanya dianggap sebagai prekursor penting bagi vaksin untuk mendapatkan persetujuan regulasi.

Peter Kremsner, seorang ahli di Rumah Sakit Universitas Jerman di Tuebingen yang sedang mengerjakan uji klinis calon vaksin dari CureVac, mengatakan langkah Rusia itu terlalu cepat dan terkesan terburu-buru.

"Biasanya Anda membutuhkan banyak orang untuk diuji sebelum Anda menyetujui suatu vaksin. Saya pikir itu sembrono untuk melakukan itu jika banyak orang belum pernah diuji."

Para ahli mengatakan kurangnya data yang dipublikasikan tentang vaksin Rusia, termasuk bagaimana pembuatannya dan perincian tentang keamanan, respons kekebalan dan apakah dapat mencegah infeksi COVID-19, membuat para ilmuwan, otoritas kesehatan, dan publik bisa meragukan efektivitas vaksin tersebut.



Simak Video "Soal Klaim Sukses Calon Vaksin Corona, WHO Ingatkan Lisensi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
Topik Hangat Vaksin Corona Rusia