Senin, 28 Sep 2020 20:02 WIB

Masih Banyak yang Anggap COVID-19 Rekayasa, Begini Cara Menanggapinya

Ayunda Septiani - detikHealth
Pengendara melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Kawasan Bangil, Pasuruan, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (20/4/2020). Mural tersebut dibuat bertujuan untuk mensosialisasikan dan mengedukasi warga agar tetap waspada terhadap potensi penyebaran virus corona atau COVID-19. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/wsj. Virus Corona COVID-19 (Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Jakarta -

Kisah-kisah para anggota keluarga terkena Corona menjadi gambaran bahwa risiko penularan di lingkungan terdekat nyata adanya. Namun seringkali hal ini diabaikan karena menganggap teman dekat maupun keluarga aman dari virus Corona COVID-19.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengingatkan, beberapa pasien Corona di RSD Wisma Atlet bahkan tidak pernah keluar rumah. Mereka jelas tertular dari lingkungan rumah atau keluarga.

Meski demikian, masih ada saja yang menganggap COVID-19 cuma rekayasa. Bagaimana cara menghadapi keluarga yang ngotot meyakini bahwa COVID-19 hanya rekayasa?

Psikolog sekaligus konselor Nuzulia Rahma Tristinarum menyarankan untuk tidak memberikan perlawanan yang berlebihan. Karena jika seseorang dilawan, maka akan semakin membantah.

"Tidak perlu memberikan perlawanan akan pendapatnya. Semakin dilawan biasanya akan semakin ngeyel. Sampaikan saja informasi dengan cara bercerita seolah kita sedang mengungkapkan perasaan," saran Rahma saat dihubungi detikcom, Senin (28/9/2020).

Rahma mengatakan cukup dengan bercerita saja tanpa perlu memojokkan orang lain yang tidak percaya dan tak perlu berpendapat apa-apa jika tidak ditanya. Cukup dengan cerita.

"Misalnya bisa menceritakan seperti ini. 'Kasihan ya temen aku kehilangan ibunya. Mereka ga nyangka ibunya kena COVID-19 dan ternyata meninggal dengan cepat. Aku jadi ikut sedih juga' bisa seperti itu," papar Rahma.

"Hm.. orang itu pasti nyesel banget deh, dia kan kerja di Jakarta, positif COVID tapi kelihatan sehat aja trus berapa lama kemudian ayahnya yang sudah tua yang serumah sama dia dan anaknya yang kecil, sakit dan ternyata positif COVID. Akhirnya dirawat di RS. Setelah seminggu dirawat, anaknya sembuh tapi ayahnya meninggal. Aku nggak bisa bayangkan pasti sekarang dia nyesel banget karena merasa sehat dan dia gak hati hati jadi menularkan ke orang lain," pungkas Rahma.



Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)