Kamis, 01 Okt 2020 09:45 WIB

Kisah Pilu Remaja Meninggal Alami Komplikasi COVID-19 Langka yang Serang Otak

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Kisah pilu remaja meninggal karena Corona usai alami komplikasi COVID-19 langka. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Seorang pemain basket remaja asal Carolina Utara meninggal setelah mengalami komplikasi COVID-19 yang langka. Ini disebabkan karena virus tersebut menyerang otaknya.

Remaja bernama Chad Dorrill ini terinfeksi virus Corona sejak awal September 2020 lalu. Akibatnya, Chad terpaksa harus belajar melalui kelas online di Appalachian State University, di Boone.

"Saat dia mulai merasa tidak enak badan di awal bulan ini, ibunya membawanya pulang, mengkarantinanya, dan membawanya untuk melakukan tes COVID-19," tulis Kanselir Sheri Event pada siswanya, yang dikutip dari New York Post, Kamis (1/10/2020).

Setelah melakukan tes COVID-19, David dorrill paman dari Chad mengatakan ponakannya itu positif terinfeksi. Itu menyebabkan dirinya harus menjalani isolasi atau karantina selama 10 hari di rumahnya, di Wallburg.

Namun, setelah Chad kembali ke perguruan tinggi lagi, Chad mulai mengalami kondisi yang lebih parah. Ia mengalami masalah neurologis yang lebih serius.

"Ketika dia (Chad) mencoba turun dari kasur, kakinya tidak berfungsi. Saya dan saudara laki-laki saya kemudian membawanya ke ruang gawat darurat," kata Dorill.

Setelah melihat keadaan Chad, dokter mengatakan pada keluarga bahwa virus ini telah merusak bagian otaknya.

Sang ibu, Susan Dorill kemudian menjelaskan komplikasi penyakit yang dialami putranya. Selama dua minggu, ternyata Chad merasa kelelahan. Tapi saat itu, ia merasa anaknya sehat-sehat saja karena Chad anak yang sehat, tidak merokok atau vape.

"Chad merasa sangat kelelahan selama dua minggu. Dan ternyata, di saat yang sama ada virus yang diam-diam menyerang tubuhnya dengan cara yang belum pernah mereka lihat," jelas ibunya.

"Para dokter mengatakan bahwa Chad adalah pasien paling langka, 1:10.000.000 kasus. Itu bisa terjadi pada siapapun, termasuk anak laki-laki ini yang baru berusia 19, sehat, tidak merokok, vape, bahkan narkoba," lanjutnya.



Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)