Jumat, 20 Nov 2020 13:24 WIB

3 Bocah Ini Punya Antibodi COVID-19 Meski Tak Tertular Corona, Kok Bisa?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sebuah kasus COVID-19 tidak biasa dialami oleh keluarga yang beranggotakan lima orang asal Melbourne, Australia. Kasus ini berawal saat pasangan suami istri, Leila Sawenko dan Tony Maguire tertular COVID-19 setelah menghadiri pernikahan dengan kondisi asimtomatik atau tanpa gejala.

Leila pun tidak sadar bahwa ia dan suaminya itu membawa virus SARS-CoV-2 ke rumahnya, dan bisa menularkannya pada ketiga anaknya. Hingga beberapa hari kemudian mulai muncul gejala khas COVID-19 seperti batuk, hidung mampet, demam, dan sakit kepala.

"Kami mulai merasa seperti mabuk, kepala sangat berkabut dan sedikit lebih lesu dari biasanya," kata Laila yang dikutip dari ABC News, Jumat (20/11/2020).

Melihat kondisi itu, akhirnya seluruh anggota keluarganya dites Corona dan hasilnya Leila serta suaminya positif COVID-19. Tetapi, ketiga anaknya justru negatif.

"Sungguh menakjubkan karena mereka menghabiskan satu setengah minggu bersama kami, sementara kami positif COVID-19," ujarnya.

Untuk memastikannya, petugas kesehatan meminta mereka tes ulang, dan hasil tes dari ketiga anaknya tetap negatif meski dua anak laki-lakinya mengalami gejala ringan yaitu pilek. Laila juga mengatakan, anak perempuannya yang berusia 5 tahun pun negatif COVID-19, walaupun tidur satu ranjang bersama ayah dan ibunya.

Hal itu membuat penasaran para dokter dan ilmuwan di Melbourne's Royal Children's Hospital dan The Murdoch Children's Research Institute (MCRI). Mereka meminta keluarga itu untuk menjadi bagian dari penelitiannya dan menganalisis sampel darah, air liur, tinja, urin, hingga mengambil usap hidung dan tenggorokan setiap dua hingga tiga hari.

Anak-anaknya memiliki antibodi yang lebih kuat

Hasil yang didapatkan cukup mengejutkan, meski hasil tes Corona ketiga anaknya negatif, para peneliti menemukan adanya antibodi COVID-19 di dalam air liur semua anggota keluarga. Ini menunjukkan bahwa mereka pernah terinfeksi COVID-19, sehingga memicu adanya respons kekebalan tubuh yang bisa melawan infeksi COVID-19.'

"Si anak bungsu yang tidak menunjukkan adanya gejala sama sekali, memiliki respons antibodi terkuat," kata ahli imunologi Melanie Neeland dari Murdoch Children's Research Institute (MCRI) yang dikutip dari Science Alert.

"Meskipun respons sel kekebalan aktif pada semua anak, tingkat sitokin , pembawa pesan molekuler dalam darah yang bisa memicu reaksi peradangan tetap rendah. Ini sesuai dengan gejala ringan atau tanpa gejala," lanjutnya.

Meski begitu, keluarga tersebut berhasil sembuh dari infeksi COVID-19 tanpa perawatan medis. Namun, mekanisme respons kekebalan tubuh anak-anak ini belum dipahami sepenuhnya dan perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

"Fakta bahwa anak-anak ini dapat mematikan virus dan bahkan tanpa menunjukkan hasil tes yang positif menunjukkan bahwa mereka memiliki beberapa tingkat sistem kekebalan yang mampu merespons dan menangani virus secara efektif, tanpa membuat mereka menjadi sangat tidak sehat," jelas Shidan Tosif, dokter anak dari Melbourne University.

Para peneliti menduga ketiga anak tersebut sudah terinfeksi COVID-19, sehingga entah bagaimana caranya bisa mengembangkan respons antibodi yang efektif membatasi replikasi virus dalam tubuh, tidak seperti orang tuanya. Hal ini mungkin membuat viral load sangat rendah, sehingga berada di bawah sensitivitas tes PCR.

"Ketidaksesuaian antara hasil PCR virologi dan uji serologis klinis, meskipun terdapat respon imun yang jelas, menyoroti keterbatasan sensitivitas PCR nasofaring dan serologi diagnostik terkini pada anak-anak," imbuhnya.



Simak Video "Kemenkes: Herbal atau Jamu Tak Bisa Sembuhkan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)