Senin, 01 Feb 2021 15:31 WIB

Lagi Hits di China, Benarkah Anal Swab Lebih Akurat Deteksi COVID-19?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sars-CoV-19 test tube in purple protective glove, virus illustration on computer screen in background Foto: Getty Images/iStockphoto/PS3000
Jakarta -

Belakangan heboh soal anal swab yang dilakukan di China untuk mendeteksi COVID-19. Pasalnya, selama ini pengambilan sampel untuk tes swab COVID-19 umum dilakukan dari nasofaring.

"Tentu saja, swab anal tidak senyaman swab di tenggorokan. Metode swab ini hanya digunakan untuk orang-orang yang tinggal di area karantina COVID-19 utama di Shanghai," kata Li Tongzeng dari Rumah Sakit You'an di Beijing seperti dikutip dari New York Post.

Bagaimana dengan akurasinya? Apakah anal swab lebih baik?

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menyebut tingkat akurasi tentu masih sama dengan PCR. Disebutkan, yang membedakan hanya metode pengambilan sampelnya.

Sementara untuk mendeteksi COVID-19, sampel yang diambil melalui anal swab juga tetap diperiksa di mesin PCR. "Iya ini kan sebetulnya terkait dari pengambilan sampelnya saja, jadi tekniknya sama, jadi setelah diambil sampelnya, nanti mesinnya sama, PCR, cuma ngambilnya aja beda," jelas Ahmad saat dihubungi detikcom Senin (1/2/2021).

"Cuma yang dari China itu kan isunya mereka sangat concern jangan sampai orang yang positif itu lepas, jadi makanya ketika mereka nih ada kasus orang itu diduga kuat kontak erat, atau dia juga nampakkan gejala COVID-19, tapi ketika dicek dari nasofaringnya kok negatif," lanjutnya.

"Nah di situ bisa mereka lanjut ke anal swab, jadi yang tadinya diambil lewat hidung, lalu mereka masuk ke anus, karena jalur keluar virus itu kan bisa melalui lubang pencernaan kan, jadi lebih melengkapi, jadi bukan yang nanti semua orang diswab anusnya," kata Ahmad.

Ia menegaskan tak semua pasien Corona China diambil sampelnya melalui anus (anal swab). Mereka yang menjalani metode swab anal ini hanya orang negatif COVID-19 tetapi menunjukkan gejala.

Hal ini dilakukan untuk benar-benar memastikan apakah seseorang sudah terbebas dari Corona. Menurut Ahmad, virus bisa terus turun ke bagian bawah, sementara kondisi nasofaring bersih.

"Jadi dulu tuh mereka gunakan ini untuk memastikan misalnya nih kira-kira masih infeksius atau nggak," tutur Ahmad.

"Soalnya kan kalau virus tuh kalau misalnya sudah turun ke bawah itu kan memang nasofaringnya kan bersih, tapi kalau dia masih mengeluarkan di anus, di rektum, berarti tanda kutip mungkin belum tentu sembuh," pungkasnya.

Lebih lanjut, Ahmad menyebut jika melihat tren kasusnya, kemungkinan virus yang sudah turun ke anus tak infeksius atau tidak berisiko menularkan.



Simak Video "Gelombang Ketiga Diprediksi Terjadi Januari-Februari 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)