Rabu, 17 Feb 2021 16:32 WIB

Mungkinkah RI Bebas COVID-19 di 17 Agustus? Begini Menurut Menkes

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menkes Budi Gunadi Sadikin usai rapat dengan Komisi IX DPR RI (Alfons/detikcom) Foto: Menkes Budi Gunadi Sadikin usai rapat dengan Komisi IX DPR RI (Alfons/detikcom)
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ikut menanggapi soal target Satgas COVID-19 Indonesia benar-benar bebas dari Corona 17 Agustus. Menurutnya, masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah hal tersebut benar bisa tercapai.

Terlebih, saat ini, angka positivity rate Indonesia kian jauh dari target WHO yaitu 5 persen. Meski begitu, Budi masih melihat beberapa hipotesa atau kemungkinan di balik kenaikan angka positivity rate.

"Dan kemudian apakah kapan ini akan selesai? Dan kenapa positivity rate kita tinggi? Buat saya sekarang masih terlalu dini untuk saya memberikan kesimpulan," bebernya dalam konferensi pers Kemenkes Rabu (18/2/2021).

"Mengapa? Karena itu tadi, data positivity rate kita tinggi, tinggi abnormal, tinggi sekali, sehingga harus ada 3 hipotesa yang harus kita cek dan kita perbaiki," sebut Budi.

Adapun beberapa hipotesa yang disebut Budi meliputi:

1. Input data testing negatif COVID-19

Budi menyebut, selama ini input data testing negatif COVID-19 masih memiliki kendala. Banyak lab yang akhirnya hanya memasukkan tes COVID-19 positif karena prioritas untuk isolasi kasus.

"Pertama saya ingin memastikan semua laporan mengenai hasil negatif tes dimasukkan oleh seluruh lab karena sampai sekarang kita lihat aplikasinya masih sulit untuk dimasukkan," jelasnya.

"Begitu masuk maka positivity ratenya yang benar akan kelihatan berapa," katanya.

2. Laporan data dari RS belum disiplin

"Yang kedua kita juga masih melihat bahwa disiplin dari rumah sakit-rumah sakit ini memberikan laporannya belum lengkap dan belum baik, kami perlu juga mengkomunikasikan dengan mereka terkait hal ini sebelum bisa mengambil kesimpulan," tuturnya.

3. Testing COVID-19 masih rendah

Adapula kemungkinan disebabkan karena testing Corona di Indonesia masih rendah sehingga menurut Budi perlu ditingkatkan, termasuk dengan kini salah satu upayanya penggunaan rapid antigen untuk konfirmasi kasus positif Corona.

"Kemudian yang ketiga mungkin sekali bahwa memang test kita kurang banyak, akibatnya positivity ratenya tinggi, oleh karena itu kita memperbanyak dengan menggunakan rapid antigen," kata Budi.

"Dengan masuknya data-data ini menanti akan kelihatan positivity ratenya berapa, baru dari siitu kita bisa mengambil kesimpulan," tutupnya.



Simak Video "Jubir Kemenkes Bicara soal Denda Tolak Vaksin Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)