Sabtu, 20 Feb 2021 06:12 WIB

FK Unpad Akan Uji Klinis Vaksin Rekombinan COVID-19 Asal China

Siti Fatimah - detikHealth
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination. Ilustrasi vaksin (Foto: iStock)
Bandung -

Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui Fakultas Kedokteran akan kembali melakukan uji klinis fase III untuk vaksin rekombinan COVID-19 pada awal Maret 2021. Vaksin ini dikembangkan Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical.

Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical merupakan produsen vaksin asal Tiongkok. Salah satu produk yang sudah dihasilkan adalah vaksin meningitis yang sudah dipakai untuk jemaah haji dan umroh di Indonesia.

Sebelumnya, Unpad bersama Bio Farma juga melakukan uji klinis fase III vaksin Sinovac sejak Agustus 2020 lalu yang melibatkan 1.620 relawan di Kota Bandung.

Peneliti Utama Uji Klinis vaksin rekombinan Covid-19 Anhui dr. Rodman Tarigan menjelaskan, karena kebutuhan vaksin dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hasil uji klinis semakin tinggi sehingga pihaknya kembali dipercaya untuk melakukan uji klinis fase III vaksin rekombinan.

Rencananya, uji klinis ini akan melibatkan 4.000 relawan yang berasal dari Jakarta dan Bandung. Seluruh relawan pun ditargetkan bukan dari tenaga kesehatan.

"Alhamdulillah tim uji klinis FK Unpad kembali dipercaya oleh dunia untuk melakukan uji klinis tahap 3 Vaksin COVID-19. Vaksin yang akan diuji di Bandung ini berbeda platformnya sama 'teman' (Sinovac) sebelumnya," kata Rodman saat dihubungi detikcom, Jumat (19/2/2021).

Dia menjelaskan, Vaksin Anhui mengembangkan jenis vaksin rekombinan atau sub unit protein. Maksudnya, platform vaksin ini diambil dari spike glikoprotein atau bagian kecil virus yang akan memicu kekebalan tubuh saat disuntikan ke tubuh manusia.

Secara teori, papar Rodman, vaksin rekombinan menimbulkan daya tahan tubuh lebih lama dibanding virus yang dimatikan. Sebagai contoh vaksin rekombinan Hepatitis B. Berdasarkan hasil penelitian, penyuntikan 3 kali vaksin tersebut akan memberikan kekebalan yang lebih lama.

Berbeda dengan Sinovac yang diambil dari virus yang dimatikan. "Secara teori, vaksin rekombinan bisa menimbulkan kekebalan lebih lama dan memberikan perlindungan lebih lama juga, mungkin bisa sampai 2 tahun. Namun, teori itu harus dibuktikan dengan uji klinis," ujar Rodman.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Pemerintah Minta Produsen Vaksin Covid-19 Penuhi Target Pengiriman"
[Gambas:Video 20detik]