Minggu, 21 Feb 2021 05:55 WIB

Round Up

Diterpa Badai Kritik, Bagaimana Kelanjutan Vaksin Nusantara dr Terawan?

Achmad Reyhan Dwianto, Vidya Pinandhita - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Vaksin Nusantara tengah menjadi pembicaraan publik. Diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto, vaksin ini diklaim sebagai vaksin COVID-19 pertama di dunia yang menggunakan sel dendritik.

Pengembangan vaksin yang dimulai sejak Oktober 2020 ini antara lain melibatkan PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama AIVITA Biomedical Inc asal California, Amerika Serikat, awalnya menggunakan nama 'Vaksin Joglosemar'. Uji klinis tahap I dilakukan bersama Universitas Diponegoro (Undip) dan RS Dr Kariadi, Semarang.

Sama-sama buatan anak bangsa, Vaksin Nusantara berbeda dengan Vaksin Merah Putih. Vaksin Nusantara tidak tergabung dalam konsorsium riset yang dibentuk Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Dalam perkembangannya, ada sejumlah kritik yang dialamatkan pada Vaksin Nusantara. Di antaranya sebagai berikut:

Sel dendritik terlalu rumit untuk vaksin COVID-19

Penggunaan teknologi sel dendritik menjadi kelebihan sekaligus kelemahan vaksin Nusantara. Kelebihan teknologi ini memungkinkan vaksin COVID-19 dibuat secara personalized, sehingga bisa diberikan pada individu dengan penyakit komorbid.

Sel dendritik merupakan komponen sistem imun yang dalam pengembangan vaksin ini akan dibiakkan menjadi antigen khusus, kemudian membentuk antibodi. Sel dendritik diambil dari pasien, diolah, lalu disuntikkan kembali ke tubuh.

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menyebut teknologi sel dendritik banyak dipakai pada terapi kanker yang memang terbilang rumit dan sangat individual. Namun untuk vaksinasi COVID-19 yang seharusnya dilakukan secara massal, teknologi ini menurutnya terlalu rumit.

"Dari segi kemanfaatannya dan kerumitannya itu nggak cocok untuk kondisi, jangankan Indonesia ya, untuk negara maju saja kaya Amerika itu kan nggak melakukan itu," sebut Ahmad saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

Sementara itu, ahli penyakit tropik dan infeksi dari Universitas Indonesia (UI) dr Erni Juwita Nelwan SpPD memperkirakan pengembangan vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik akan sangat mahal.

"Tetapi kalau kita membuat dendritik sel ini sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuwan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal, itu dari sisi manufacturingnya, pembuatannya," jelasnya.

Peneliti Vaksin Nusantara mengklaim antibodi yang dihasilkan bisa bertahan seumur hidup. Klaim ini juga tidak luput dari kritik para ahli. Selengkapnya baca di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Serba-serbi Vaksin Nusantara Besutan Eks Menkes Terawan"
[Gambas:Video 20detik]