Jumat, 26 Feb 2021 11:03 WIB

Peringatan WHO di Balik Penurunan Kasus COVID-19 Enam Pekan Berturut-turut

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya tren penurunan kasus COVID-19 di seluruh dunia selama enam minggu berturut-turut. Namun WHO mengingatkan untuk tidak lengah karena ada ancaman varian baru yang lebih menular.

Berdasarkan laporan mingguan pandemi yang dirilis pada Rabu (24/2/2021), tercatat ada 2,4 juta kasus baru COVID-19 sepanjang pekan lalu. Jumlah kasus tersebut lebih rendah 11 persen dibandingkan pada pekan sebelumnya.

Selain itu, WHO juga mengatakan jumlah kematian cenderung menurun. Penurunannya sebesar 20 persen di seluruh dunia sejak pekan lalu.

Menurut laporan WHO, sejak awal pandemi, sudah ada jutaan kasus infeksi dan kematian akibat COVID-19 yang tercatat di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan akan meningkat akibat varian baru Corona yang lebih menular, yang telah terdeteksi di berbagai negara.

"Meskipun di dunia telah melihat penurunan kasus baru terus-menerus, tapi 'apinya' tidak padam," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang dikutip dari Xinhua, Jumat (26/2/2021).

"Jika kita berhenti memerangi (virus) di bidang manapun, itu akan datang kembali," lanjutnya.

WHO menyebutkan, sebanyak 101 negara sudah mengkonfirmasi keberadaan varian baru Corona yang pertama kali ditemukan di Inggris. Sementara varian baru Corona yang ditemukan di Afrika Selatan, sudah teridentifikasi di 51 negara di dunia.

Sampai saat ini, program vaksinasi sudah mulai dilakukan di beberapa negara untuk melawan pandemi COVID-19, dengan vaksin yang telah mendapat izin penggunaan darurat dari masing-masing badan otoritas masing-masing.

Namun, dari informasi yang dirilis WHO pada 23 Februari 2021, masih ada 255 kandidat vaksin yang masih dikembangkan di seluruh dunia, 73 di antaranya masih dalam uji klinis.



Simak Video "SAGO, Penasihat WHO yang Bertugas Temukan Asal Usul Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)