Catatan BPOM untuk Vaksin Nusantara: Vaksin untuk Pandemi Harus Mudah Dibuat

Catatan BPOM untuk Vaksin Nusantara: Vaksin untuk Pandemi Harus Mudah Dibuat

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 10 Mar 2021 17:43 WIB
Catatan BPOM untuk Vaksin Nusantara: Vaksin untuk Pandemi Harus Mudah Dibuat
Kepala BPOM Penny K Lukito (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) buka suara terkait kajian vaksin Nusantara yang diprakarsai eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut vaksin yang dikembangkan harus fit atau sesuai dengan kondisi pandemi.

"Dalam pandemi ini sekarang terutama vaksin yang akan dikembangkan haruslah tepat atau fit dengan situasi pandemi yaitu mudah dalam pembuatannya," jelas Penny dalam Raker DPR Komisi IX Rabu (10/3/2021).

"Tidak memerlukan peralatan khusus, termasuk dalam pembuatan, dan penyimpanan dapat diaplikasikan dalam pelayanan kesehatan dan terjamin khasiat keamanan dan mutu," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penny menyebut, pembuatan vaksin yang mudah di masa pandemi bertujuan untuk mempercepat vaksinasi. Uji vaksin yang akan dipakai di masa pandemi juga harus terbukti menimbulkan antibodi dalam waktu cepat.

Pemenuhan kedua hal tersebut juga disertai data atau bukti vaksin valid dalam keamanan serta khasiatnya.

ADVERTISEMENT

"Important saat masa pandemi dibutuhkan vaksin yang mudah digunakan dan dikembangkan dengan cepat dan massal, dan memberikan respons antibodi yang cepat, dan juga aplicable di masa pandemi ini untuk melakukan vaksinasi massal dalam waktu yang cepat," bebernya.

Penny kembali menegaskan, pemenuhan good clinical practice atau pelaksanaan uji vaksin Nusantara harus dilakukan dengan tepat. "Untuk menjaga keselamatan subjek penelitian dan menjaga kredibilitas dalam menghasilkan data yang akurat, valid dan dapat dipercaya," pungkasnya.




(naf/up)
Kontroversi Vaksin Nusantara
93 Konten
Satu lagi vaksin COVID-19 buatan anak bangsa, Vaksin Nusantara, sedang dalam proses pengembangan. Namun penggunaan teknologi sel dendritik jadi sorotan, dinilai terlalu rumit untuk menjawab kebutuhan di masa pandemi. BPOM tak meloloskan ujinya.

Berita Terkait