Kamis, 11 Mar 2021 16:20 WIB

Deteksi dan Penanganan Hipospadia, Kondisi yang Diidap Aprilia Manganang

Ardela Nabila - detikHealth
Aprilia Manganang, andalan timnas voli putri pada SEA Games 2017 Kuala Lumpur nanti. Foto: Femi Diah/detikSport
Jakarta -

Seorang atlet bola voli wanita, Aprilia Manganang, kini dinyatakan sebagai seorang pria usai melakukan sejumlah pemeriksaan. Disebut, ia mengidap hipospadia, yaitu kondisi kelainan bagian urogenital (saluran kencing).

Secara umum, kondisi tersebut merupakan kelainan bawaan sejak bayi baru lahir di mana bayi mengalami kelainan dengan adanya posisi lubang kencing yang tidak berada di tempatnya, yakni di tengah penis.

Saluran kencing seseorang yang mengidap hipospadia bisa terletak di bawah penis, batang penis, atau di bagian testis (buah zakar). Meski jarang terjadi, hipospadia bisa terjadi pada bayi. Menurut dr Melisa Anggraeni, M Biomed, SpA, seorang dokter spesialis anak, terdapat 10 dari 1.500 kelahiran bayi yang mengalami kondisi ini.

"Kelainan genital memang sering ditemukan pada bayi, tapi kalau kasus hipospadia enggak terlalu sering juga ditemukan," kata dr Melisa, dikutip dari HaiBunda.

Selain kelainan pada bagian saluran kencing, sejumlah pasien dengan kondisi ini juga bisa mengalami kelainan genetik lainnya atau hormonal. Sementara itu, hipospadia dapat ditemukan di awal dan diamati sejak bayi baru lahir.

"Paling tidak bisa dideteksi di 3 sampai 7 hari usia bayi bayi," ujar dr Melisa.

Hipospadia sendiri ternyata bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  1. Faktor genetik atau adanya riwayat keturunan yang pernah mengalami masalah ini
  2. Ibu hamil berusia di atas 35 tahun yang memiliki risiko melahirkan bayi dengan kelainan kongenital, seperti hipospadia. Hal ini disebabkan karena sel telur yang kurang bagus.
  3. Adanya komorbid atau penyakit penyerta, seperti diabetes melitus atau obesitas.
  4. Paparan tambahan, seperti paparan kimia.
  5. Bagi ibu yang baru saja melahirkan dan melihat adanya tanda-tanda hipospadia pada sang buah hati, maka bayinya bisa dibawa ke dokter. Pasalnya, kondisi ini kerap sulit dikenali oleh orang tua.

"Terkadang ada pasien yang datang anaknya sudah besar. Ibunya tidak sadar kalau pipis anaknya keluar bukan dari tengah penis. Ada ibu yang enggak ngeh karena tidak memperhatikan pipis anak karena menggunakan pampers," pungkas dr Melisa.

Selain air kencing yang tidak normal, hipospadia juga bisa dikenali dari bentuk penis anak yang cenderung melengkung ke bawah atau terlihat lebih kecil dari ukuran bayi normal.

"Kalau ibu-ibu merasa bentuk testis dan penis anak ini enggak seperti yang dilihat di internet, boleh coba konsultasi. Dokter benar-benar harus cek di mana letak lubang uretranya dan apakah testis sudah turun atau ukuran dan bentuknya normal," lanjutnya.

Lalu, bagaimana cara menangani hipospadia? Apakah kondisi ini bisa terdeteksi sejak masa kehamilan?

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Imbas Rendahnya Testing COVID-19 Pada Anak di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)