Senin, 22 Mar 2021 15:03 WIB

Perjalanan Vaksin Nusantara, Digagas Terawan hingga Dikabarkan Mau Setop

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
vaksin nusantara Foto: Angling/detikHealth
Jakarta -

Vaksin Nusantara yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto terganjal restu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bahkan vaksin Corona berbasis sel dentrintik yang sudah melakukan uji klinis tahap 1 ini dikabarkan dihentikan.

Kabar ini muncul setelah penggalan surat dari Direktur Utama RS Dr Kariadi Semarang, yang menjadi site research vaksin Nusantara, kepada Menteri Kesehatan, berisi permohonan izin menghentikan sementara penelitian vaksin Nusantara menjadi viral.

Sejak awal kemunculannya, vaksin Nusantara mendapat kritik. Disebutkan bahwa sel dendritik terlalu rumit untuk vaksin COVID-19. Setelah uji klinis tahap 1, BPOM masih belum memberikan 'lampu hijau' kepada tim peneliti vaksin Nusantara untuk lanjut ke uji klinis ke fase 2.

Berikut riwayat perjalanan berliku vaksin Nusantara:

1. Awalnya bernama 'vaksin Joglosemar'

Pada Desember 2020, vaksin ini muncul dengan nama 'Joglosemar', digarap oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama dengan AIVITA Biomedical Inc, perusahaan asal AS selaku pemasok teknologi dendritik.

Masih membawa klaim keunggulan yang sama, yakni penggunaan basis sel dendritik pertama di dunia yang nilai plusnya, bisa menciptakan antibodi seumur hidup. Penelitian vaksin Nusantara didukung pembiayaan oleh Badan Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kemenkes.

2. Tim peneliti UGM mundur

Di awal Maret 2021, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengajukan pengunduran diri dari tim penelitian uji klinis vaksin Nusantara.

Wakil Dekan FKKMK UGM Bidang Penelitian dan Pengembangan, dr Yodi Mahendradhata mengatakan, pihaknya telah mengajukan surat pengunduran diri kepada Menteri Kesehatan karena para peneliti sejauh ini tidak dilibatkan dalam proses uji klinis, termasuk dalam penyusunan protokol penelitian vaksin nusantara.

"Belum ada keterlibatan sama sekali. Kita baru tahu saat itu muncul di media massa bahwa itu dikembangkan di Semarang kemudian disebutkan dalam pengembangannya melibatkan tim dari UGM," katanya melalui keterangan tertulis dari Humas UGM, Senin (8/3/2021).

3. Terawan ungkap alasan bikin vaksin Nusantara

Dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, dr Terawan mengungkap alasannya mengembangkan vaksin Nusantara. Ia menyebut, sejak 2015, dirinya telah mengembangkan sel dendritik di cell cure center RSPAD Gatot Subroto yang membuatnya mantap mengembangkan vaksin Corona berbasis dentrintik.

"Sejak 2015 saya sudah mengembangkan proses cell dendritic vaccine di cell cure center RSPAD Gatot Subroto sehingga ini terus berkembang sehingga begitu ada ide untuk dentrikti vaksin untuk COVID-19, gayung jadi bersambut," ujar Terawan.

4. BPOM sebut uji klinis vaksin Nusantara tak sesuai kaidah

BPOM telah mengkaji penelitian fase I vaksin Nusantara berteknologi sel dendritik. Kepala BPOM Penny K Lukito mempertanyakan khasiat vaksin Nusantara yang belum terjawab di uji fase I. BPOM juga menyatakan vaksin Nusantara tidak memenuhi kaidah good clinical practice.

"Di dalam penelitian ini juga ada profil khasiat vaksin yang jadi tujuan sekunder yang harus dijawab, karena bukan hanya aspek keamanan saja ya tapi juga ada di dalam tujuan sekunder tersebut adalah di mana juga penelitian ini harus menunjukkan profil khasiat vaksin yang menjadi tujuan sekunder," jelas kepala BPOM Penny K Lukito.

5. Belum ada kejelasan dari BPOM soal kelanjutan vaksin Nusantara

Kepala BPOM Penny K Lukito saat ditemui di Jakarta, Senin (22/3/2021) menegaskan bahwa riset obat maupun vaksin harus memenuhi standar-standar yang berlaku. Tidak terkecuali pada riset vaksin Nusantara.

Sampai saat ini belum ada kejelasan dari BPOM terkait kelanjutan vaksin Nusantara. Namun Penny menyebut pihaknya tak menghentikan riset.

"Badan POM tidak pernah menghentikan (riset vaksin Nusantara)," tegas Penny.



Simak Video "Potret Moeldoko Saat Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)