Rabu, 24 Mar 2021 21:31 WIB

dr. Reisa Ungkap 3 Langkah Dapatkan 3 Manfaat Vaksin

Faidah Umu Sofuroh - detikHealth
Dokter Reisa memberi keterangan soal covid-19, Senin (21/9) / Foto:
Kris - Biro Setpres Foto: Kris - Biro Setpres
Jakarta -

Memasuki bulan ketiga vaksinasi COVID-19, Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dokter Reisa Broto Asmoro menyarankan tiga langkah inti persiapan calon penerima vaksin. Tiga langkah ini perlu dilakukan agar proses vaksinasi lancar dan aman serta membawa dampak semaksimal mungkin.

Ia menyarankan agar masyarakat yang sudah punya jadwal terkonfirmasi mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang hari vaksinasi. Di periode Februari sampai dengan Maret 2021 ini, atau dalam tahap kedua Program Vaksinasi COVID-19 ini, Kementerian Kesehatan menargetkan kaum lanjut usia (Lansia) dan pelayan publik sebagai kelompok sasaran penerima vaksin.

"Vaksin dapat menyelamatkan nyawa. Vaksin selama ini telah terbukti dapat melindungi kita dari berbagai penyakit menular. Dan vaksin COVID-19 yang digunakan pada masa darurat pandemi ini efektif mengurangi resiko infeksi berat dan fatal dari COVID-19. Jadi, persiapkan diri sebaik mungkin untuk mendapatkan dampak yang optimal, yakni tercipta kekebalan tubuh semaksimal mungkin," kata dr. Reisa dalam keterangan tertulis, Rabu (24/3/2021).

Saat ini, sudah sekitar 6 juta masyarakat Indonesia yang menerima vaksin dosis pertama dan sekitar 2,5 juta orang yang sudah menerima vaksin dosis ke-2. Namun, sayangnya, laporan Kementerian Kesehatan RI per 21 Maret 2021, menunjukkan masih ada beberapa orang yang sudah terdaftar harus tertunda proses vaksinasi dikarenakan kondisi kesehatan yang belum memenuhi syarat untuk menerima vaksin.

Maka dari itu, dr. Reisa menyarankan 'Tiga Sebelum Tiga' untuk mereka yang akan vaksinasi COVID-19.

"Praktikkan tiga langkah persiapan, sebelum mendapatkan tiga manfaat vaksinasi," ujar dr. Reisa.

1. Lakukan Pendaftaran dan Pastikan Apabila Nama Sudah Terdaftar

Calon penerima vaksin yang merupakan sasaran vaksinasi pada periode ini sudah terdaftar di dalam Sistem Satu Data Vaksinasi yang dikembangkan pemerintah. Pada dasarnya akan mendapat giliran untuk divaksin di fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, berkat inisiatif kerja sama yang erat oleh berbagai komponen masyarakat, beberapa pos vaksinasi didirikan di berbagai kota besar dan membuka pendaftaran daring atau kolektif.

"Hindari datang langsung tanpa perjanjian karena akan membuka peluang antrean panjang dan kerumunan yang akan merugikan semua pihak," tegas dr. Reisa

2. Periksa Kesehatan dan Pastikan Kondisi Fit Sebelum Divaksinasi

Bagi calon penerima vaksin baik yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, ataupun yang selama ini belum mengetahui kondisi kesehatannya seperti apa, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan fisik dan meminta
rekomendasi dokter sebelum menerima vaksin COVID-19.

"Pastikan suhu tubuh kita normal, di bawah 37,3 derajat celcius dan tekanan darah di bawah 180 per 110," ujar dr. Reisa.

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit sejak Februari 2021 juga telah menyatakan bahwa penderita hipertensi atau darah tinggi dapat divaksinasi apabila tekanan darahnya dalam kondisi terkontrol dan dibawah 180/110 MmHg pada saat dilakukan vaksinasi.

Begitu juga dengan penderita diabetes, mereka dapat divaksinasi sepanjang kondisi kadar gulanya terkontrol dan tidak sedang mengalami gangguan akut.

Penyintas kanker dapat tetap diberikan vaksin dengan syarat sudah tidak menjalani terapi imunosupresi. Sedangkan penyintas COVID-19 dapat divaksinasi jika sudah lebih dari tiga bulan pascasembuh.

"Dan kabar baik lainnya, Ibu menyusui saat ini juga sudah diketahui dapat diberikan vaksinasi," ujar dr. Reisa.

Beberapa ahli bahkan menduga imunitas yang didapat ibu menyusui dapat ditemukan pada bayinya.

Untuk menghindari tekanan darah tinggi pada saat skrining pemeriksaan kesehatan, dr. Reisa menyarankan agar calon penerima vaksin beristirahat atau tidur dengan cukup, menjalani gaya hidup sehat, tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol, berolahraga dengan rutin sesuai kapasitas tubuh masing-masing dan jauhi kondisi yang dapat menimbulkan stres berat.

Bagi masyarakat yang masih dalam pengobatan atau terapi, dr. Reisa menganjurkan untuk tetap melanjutkan konsumsi obat-obatan yang disarankan dokter dan tidak perlu dihentikan karena hendak vaksinasi COVID-19.

"Berbahagialah dan bersyukurlah karena negara kita telah memulai program vaksinasi sehingga dapat terlindungi lebih cepat," terang dr. Reisa.

Ia juga menjelaskan baru hanya beberapa puluh negara yang memulai vaksinasi dari seluruh 200 lebih negara yang ada di dunia.

"Mendapatkan kesempatan divaksin adalah rezeki yang berkah. Ekspresikan rasa senang dan suka cita kita dan tidak perlu cemas saat akan divaksin. Prosesnya cepat dan tidak terasa sakit," ujarnya.

Dokter Reisa menyarankan agar calon penerima vaksin memakai baju yang lengannya dapat dilipat dengan mudah atau baju berlengan pendek. Untuk perempuan, pos vaksinasi akan menyiapkan ruang tertutup, terutama bagi mereka yang berhijab.

"Oh ya, boleh loh pasang foto selfie atau pose kita senang setelah divaksin. Sebarkan kabar gembira itu bagus, namun sertifikat vaksinasi tidak perlu di-posting ya. Cukup untuk arsip data kesehatan kita saja," ucap dr. Reisa.

3. Pelajari Rangkaian Proses Vaksinasi

Dokter Reisa juga menyarankan agar para calon penerima mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang merupakan bagian screening atau penyaringan peserta vaksinasi.

Menurut Surat Edaran Ditjen P2P bertanggal 18 Februari 2021, setidaknya ada 14 pertanyaan yang harus bisa dijawab calon penerima vaksin di meja penyaringan. Petunjuk teknis vaksinasi COVID-19 menyatakan setiap pos vaksinasi setidaknya memiliki satu rangkaian proses dengan empat meja.

Meja 1 adalah registrasi atau verifikasi pendaftaran. Meja 2 adalah penyaringan dengan anamnesa dan pemeriksaan kesehatan. Meja 3 adalah tempat dilakukannya vaksinasi, dan meja 4 adalah meja registrasi setelah penyuntikan yang disertai adanya ruang tunggu untuk dilakukannya masa observasi minimal 30 menit.

"Keempat meja ini melambangkan proses yang komprehensif. Oleh karena itu tidak bisa saling dipisahkan. Ikuti semuanya dengan persiapan yang baik dan patuhi saran petugas," ujar dr. Reisa.

Selama menunggu, pelajari semua tentang dampak ringan yang umum terjadi pascavaksinasi. Kemudian setelah menerima surat bukti sudah divaksinasi, buat agenda di kalender untuk kembali mendapatkan dosis kedua.

"Dan tetaplah beraktivitas seperti biasa. Vaksinasi seharusnya membuat makin produktif, bukan sebaliknya," katanya.

Sekali lagi, dr. Reisa mengingatkan vaksin telah terbukti menjadi penyelamat manusia dari berbagai macam jenis penyakit menular, bahkan dapat menghilangkan beberapa penyakit. Beberapa contoh penyakit yang tidak ada lagi di Indonesia karena kesuksesan vaksinasi adalah polio dan cacar varicella.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, dr. Reisa menggarisbawahi ketiga persiapan di atas dapat membuka peluang penerima vaksin menikmati tiga dampak positif vaksin.

Pertama, kekebalan tubuh penerima vaksin akan terbangun sehingga siap menghadapi serangan COVID-19 apabila sampai terpapar. Hasil uji klinis beberapa merk vaksin yang sudah disetujui Badan Kesehatan Dunia WHO dan Badan PPM menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 dapat melindungi dari dampak fatal atau kondisi kritis saat terkena virus SARS CoV-2, penyebab COVID-19.

Namun dr. Reisa mengingatkan pertahanan melawan COVID-19 bukan hanya vaksin. Namun pencegahan lain seperti 3M dan patuh protokol kesehatan tetap harus disiplin sebagai bentuk adaptasi kebiasaan baru.

"Jangan lengah. Kita sudah melewati bulan ke-12 pandemi. Pastikan saat ini kita sudah terbiasa menjalani pola hidup baru- yakni adaptasi kebiasaan baru dengan pola hidup yang bersih dan sehat, pola hidup produktif yang aman COVID-19," lanjutnya.

Kedua, beban tenaga medis akan turun dan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit akan meningkat drastis. Beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat, yang telah memvaksinasi jutaan penduduk mereka menunjukkan penurunan drastis di angka kematian (case fatality rate) dan tingkat huni ruang gawat darurat (intensive care unit/ICU) atau yang disebut bed occupancy ratio.

Laporan terkini Kemenkes RI dan Satgas COVID-19 menunjukkan ketersediaan tempat tidur RS sekarang rata-rata sudah di bawah 60 persen, sesuai rekomendasi WHO.

Ketiga, upaya memutus pandemi bersama-sama akan semakin terasa. Dokter Reisa mengingatkan penemuan vaksin COVID-19 adalah yang tercepat dalam sejarah teknologi kesehatan dan merupakan kerja keras ilmuwan, produsen vaksin, investor dan filantropis, serta komitmen pemerintahan untuk segera mengakhiri pandemi.

"Pastikan kita siap divaksin saat giliran kita tiba. Dan ingat, vaksin yang terbaik adalah yang tersedia saat ini. Yang penting bukan merk vaksin, tapi manfaatnya yang utama. Yuk gotong-royong, sukseskan vaksinasi covid-19. Lindungi diri, lindungi negeri," katanya.



Simak Video "Uji Coba Vaksin Sinovac Selesai, Vaksin Corona Menunggu Hasil Efikasi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)