Rabu, 14 Apr 2021 06:26 WIB

Round Up

Beda Sikap BPOM Soal Vaksin Nusantara Vs Vaksin Merah Putih

Vidya Pinandhita - detikHealth
vaksin nusantara Riset vaksin nusantara semula dilakukan di RS Dr Kariadi Semarang (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Vaksin Nusantara, vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik besutan eks Menteri Kesehatan Terawan, hingga kini belum mendapat restu untuk melanjutkan risetnya. Ada sejumlah catatan, mulai dari basis virus yang dinilai tak sesuai dengan virus Corona yang ada di Indonesia, hingga kewajiban prosedur yang tak kunjung dituntaskan.

"Jika ada pelaksanaan uji klinik yang tidak memenuhi standar tahapan preklinik, uji klinik, harus memenuhi poin-poin dalam protokol tapi tidak dilakukan, tentunya akan mengalami masalah sendiri. Tahapan-tahap tersebut tidak bisa diabaikan," ujar kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito saat ditemui di Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Vaksin Nusantara pula disebut belum memiliki kemampuan imunogenitas sehingga tak bisa melangkah lebih jauh.

"Tapi silakan. Kami tidak akan menghentikan, silakan diperbaiki," imbuh Penny.

Terkait riset anak bangsa, BPOM menunjukkan dukungan penuh pada riset vaksin Corona lainnya yakni vaksin merah putih. BPOM berharap paling cepat salah satu dari 6 kandidat vaksin Merah Putih yakni garapan Universitas Airlangga (Unair) bisa mulai diproduksi pada Oktober atau November 2021.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi Nasional (Komnas) Penilai Khusus Vaksin COVID-19 dr Jarir At Thobari menyebut, perbedaan kelanjutan kedua vaksin ini disebabkan basis virus dan efektivitas yang berbeda.

"Efektivitas vaksin itu tergantung dari tipe virusnya. Yang menjadi keunggulan (vaksin Merah Putih) karena kita mendapatkan vaksin potensial, dikembangkan dari tipe yang berada di Indonesia sehingga diharapkan vaksin ini bisa melawan virus dengan baik," ujar dr Jarir.

Menurutnya, jika vaksin COVID-19 berbasis mutasi-mutasi Corona yang ada di Indonesia seperti vaksin Merah Putih, besar potensi vaksin efektif melawan infeksi COVID-19.

Sementara, vaksin Nusantara mengunggulkan basis dendritiknya, yang dipasok oleh tim peneliti AIVITA asal AS.

"Ada beberapa vaksin di luar negeri efektivitasnya tidak begitu baik terhadap mutasi-mutasi virus yang ada. Dengan pengembangan vaksin di Indonesia, suplai vaksin akan dijamin. Kita tahu, embargo vaksin itu mulai terjadi. Dengan diproduksinya vaksin di Indonesia, suplai akan menjadi kebutuhan buat sendiri, ini sangat penting," tegasnya.



Simak Video "Kata Peneliti Unair soal Hasil Uji Vaksin Merah Putih ke Varian Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)