Rabu, 21 Apr 2021 04:09 WIB

Kegagalan India Cegah Gelombang Kedua COVID-19 yang Mematikan

Firdaus Anwar - detikHealth
A COVID-19 victim is cremated in Vasai, outskirts of Mumbai, India, Thursday, April 15, 2021. India reported more than 200,000 new coronavirus cases Thursday, skyrocketing past 14 million overall as an intensifying outbreak puts a grim weight on its fragile health care system. Layanan kremasi di India kini berjalan 24 jam. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Kondisi pandemi COVID-19 di India menjadi contoh apa yang bisa terjadi ketika orang-orang lengah dan tidak lagi mempedulikan virus. Dengan kasus harian COVID-19 mencapai lebih dari 200.000, India kini menjadi hotspot penyebaran virus.

"Saya melihat terlalu banyak orang meninggal di ambulans. Rumah sakit menolak pasien karena tempat tidur penuh, apoteker kehabisan obat, dan oksigen langka," komentar salah satu warga, Vimal Kapoor, seperti dikutip dari BBC pada Rabu (21/4/2021).

Menteri Kesehatan India, Harsh Vardhan, di awal Maret 2021 padahal sempat mengatakan bahwa negaranya sudah memasuki 'tahap akhir' perang melawan pandemi COVID-19. Ini berdasarkan data kasus infeksi rata-rata di bulan Februari mencapai 11.000, jauh di bawah puncak tahun lalu yang mencapai 93.000 kasus per hari.

Euforia mengalahkan pandemi di India sudah terbentuk dan diyakini oleh sebagian politisi dan media setempat sejak akhir tahun lalu. Keyakinan ini diperkuat dengan upaya vaksinasi yang menempatkan India sebagai salah satu negara penghasil vaksin COVID-19 terbesar di dunia.

Hingga kemudian di bulan Februari, India melaksanakan pemilu yang melibatkan 186 juta orang. Kampanye dimulai pada bulan Maret tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Acara olahraga dan keagamaan besar pun mulai dilakukan lagi-lagi tanpa protokol kesehatan.

Kurang dari sebulan, kondisi pandemi memburuk. Di pertengahan April kasus harian COVID-19 India mencapai 100.000 dengan rekor tertingginya mencapai lebih dari 270.000. Laporan oleh The Lancet COVID-19 Commission memperkirakan akan ada sekitar 2.300 orang meninggal setiap hari di India pada awal bulan Juni.

Media sosial di India kini penuh oleh video pemakaman, kerabat yang berduka di rumah sakit, antrean ambulans, dan mayat yang menumpuk. Netizen ramai saling meminta informasi kamar rumah sakit yang kosong, obat-obatan, suplai oksigen, dan tes COVID-19.

Kelalaian karena terlena oleh herd immunity atau kekebalan kelompok disebut ahli jadi penyebab akhirnya India menghadapi gelombang kedua COVID-19 yang lebih mematikan. Ungkapan bahwa India sudah berada pada tahap akhir pandemi ternyata menjadi sebuah pernyataan prematur.

"Sudah ada rasa kemenangan... Sebagian orang merasa kita sudah mencapai herd immunity. Sebagian orang lainnya ingin bisa kembali kerja. Narasi ini didengarkan oleh banyak orang, sehingga suara-suara yang memperingatkan sudah tidak lagi didengar," komentar K Srinath Reddy dari Public Health Foundation of India.



Simak Video "Sukarelawan Terjun Langsung Jemput Jenazah COVID-19 di India"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)