Senin, 03 Mei 2021 05:27 WIB

Pakar soal Kerumunan Tanah Abang: Pulang Belanja Bisa Bawa Virus COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) bersama Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman (ketiga kiri) dan Kapolda Metro Jaya Muhammad Fadil Imran (kedua kanan) meninjau situasi di Pusat Grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). Anies mengakui adanya lonjakan pengunjung di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara dari sekitar 35.000 pengunjung pada hari biasa menjadi sekitar 87.000 orang pada akhir pekan ini sehingga pihaknya menyiagakan sekitar 750 petugas untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc. Kerumunan pasar Tanah Abang. (Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta -

Pusat Grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dibanjiri lautan manusia. Berdasarkan pantauan detikcom pada Minggu (2/5/2021) pagi, banyak pengunjung ramai berbelanja tanpa jaga jarak hingga berdesak-desakan.

"Iya saya ke sini sama anak mau beli baju buat Lebaran nanti," kata Ratna salah satu pengunjung, saat ditemui di Blok A, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021).

Pakar epidemiologi dr Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia mewanti-wanti kerumunan Tanah Abang bisa sangat berbahaya, bukan tak mungkin kondisi di India kemudian terjadi di Indonesia. Terlebih, level Corona di Indonesia disebut Dicky masuk dalam level terparah berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Kita kan levelnya community transmission, level terparah itu community transmission, dan yang memberikan itu kan WHO, kita ada di level itu," kata dr Dicky.

"Nah dalam situasi ini coba kalau memang memberi akses pada masyarakat, pembeli dan pedagangnya untuk melakukan aktivitas ini iya betul-betul harus diatur," bebernya.

dr Dicky mendesak untuk benar-benar menerapkan kebijakan tegas demi menekan transmisi penularan COVID-19. Jika terus dibiarkan, kondisi COVID-19 di Indonesia menurutnya semakin berbahaya.

"Iya ini bisa jadi belanja baju lebaran yang didapat bukan cuma baju lebaran tapi juga virus COVID-19 nya dapat dibawa pulang," kata Dicky saat dihubungi detikcom Minggu (2/5/2021).

"Kita sudah sulit mendeteksi klaster itu karena level community transmisson itu sulit karena terlalu banyaknya PR kita, jadi ketika ada yang positif itu nggak akan terdeteksi ya makanya itu namanya mencari masalah," lanjut dia.

Dicky kembali mengingatkan, banyak dari mereka yang terpapar Corona tanpa gejala mengalami efek jangka panjang beberapa waktu kemudian. Sejumlah negara maju, kata Dicky, sudah mewaspadai hal ini selain angka kasus kematian Corona.

"Riset terakhir semakin membuktikan pada orang yang tidak bergejala bahwa gangguan kesehatan itu ternyata semakin besar, terutama sekarang selain di jantung, paru, juga di pembuluh darah," jelas Dicky.

Hal ini, kata dia, bisa berbuntut panjang pada kualitas SDM yang tentu akan mengalami penurunan kualitas, meskipun banyak dari mereka belum merasakan hal tersebut saat ini.



Simak Video "Tanah Abang Banjir Pengunjung, Epidemiolog: Pemerintah Kurang Edukasi"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)