Rabu, 19 Mei 2021 14:45 WIB

Jelas-jelas Melanggar, Kok Malah Ngegas? Ini Kemungkinan Psikologisnya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pemerintah melarang mudik 2021 mulai hari ini. Titik penyekatan disiapkan untuk menjaring pemudik. Seperti apa suasananya? Ilustrasi larangan mudik. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Media sosial masih diramaikan video viral mempertontonkan para pemudik mengamuk lantaran diminta putar balik. Bahkan kini, wajah para pemudik yang ngegas tersebut ramai terpampang menjadi bahan celoteh dan guyon warganet.

Larangan mudik sudah jelas menjadi aturan tertulis. Jauh hari sebelum Lebaran, masyarakat berulang kali diimbau untuk tidak mudik demi menekan risiko penyebaran COVID-19. Lantas, mengapa ada pemudik malah marah, bahkan sampai memaki petugas, padahal larangan ini sudah jelas?

"Itu yang dinamakan respons seseorang. Mekanisme mempertahankan ego seseorang itu berbeda. Ada yang ditegur dia marah, ada yang minta maaf, ada yang kalau kita lihat pura-pura kesurupan. Itu menghindar namanya, mekanismenya," terang psikolog Anastasia Sari Dewi, founder dari pusat konsultasi Anastasia and Associate pada detikcom, Selasa (18/5/2021).

Menurutnya, sikap masyarakat untuk tetap mudik, atau bahkan mengamuk ketika ditegur tidak terlepas dari minimnya pemahaman akan aturan dan norma yang berlaku terkait penanganan kondisi pandemi.

Ia menjelaskan, hal sedemikian disebut 'id ego superego' dalam psikologi. Id adalah dorongan, misalnya berupa rasa rindu pada keluarga di kampung. Sedangkan ego adalah cara menerapkannya, dalam hal ini yakni tetap pergi mudik.Walhasil, rasa rindu mereka pada keluarga di kampung mengalahkan pemahaman mereka akan aturan yang ada.

"Egonya adalah dengan cara dia pulang kampung mudik. Meski secara ego norma-norma, nilai-nilai dilarang, tapi yang namanya ego seseorang bisa mengungguli daripada superego," ujar Sari.

"Tidak semua orang, kembali lagi, bisa memahami norma dan nilai dengan baik. Di saat egonya sangat besar untuk pulang, di situlah dia akan mempertahankan sedemikian rupa egonya supaya menang dengan berbagai cara, dengan kepribadian dan karakteristik. Ada yang marah, kabur, dan lain-lain," lanjutnya.



Simak Video "Mobilitas Lebaran Jadi Penyebab Tingginya Kasus COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)