Jumat, 21 Mei 2021 06:48 WIB

Bio Farma: Tes Antibodi Sendiri Usai Vaksin Corona Tak Ada Manfaatnya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hadirkan laboratorium mini-layanan tes swab antigen bagi para pegawai. Hal itu dilakukan guna cegah COVID-19. Ilustrasi tes Corona (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Penasaran dengan efektivitas vaksin Corona, beberapa orang berinisiatif melakukan tes antibodi sendiri di laboratorium. Peningkatan kadar antibodi dianggap mewakili efektivitas vaksin.

Meski tak disarankan oleh Kementerian Kesehatan RI, tes antibodi usai vaksin Corona rupanya cukup banyak diminati. Salah satunya oleh anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay. Dari hasil tes antibodi yang dilakukannya itu pula, Saleh mempertanyakan efektivitas vaksin Corona yang dipakainya.

"Waktu itu saya tes imunitas saya setelah sebulan, dapat 6,28. Kemarin, sebulan setelah itu saya tes lagi. Dapat 8,28," ungkap Saleh dalam rapat di DPR RI, Kamis (20/5/2021).

Saleh semakin mempertanyakan efek perlindungan vaksin Corona karena sepekan setelah tes antibodi, dirinya malah terinfeksi COVID-19.

"Karena kalau imunitas 6,28; 8,28; itu nggak usah disuntikkan pun sudah ada di situ, Pak. Mestinya. Mestinya, saya nggak paham soal kedokteran. Tapi mestinya itu kan pasti ada kekebalannya kan, masak nggak ada," sebutnya.

Menanggapi kebingungan tersebut, Ketua Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), M.TropPaed menegaskan bahwa tes antibodi setelah vaksin Corona tidak disarankan. Alasannya, WHO pun tidak menggunakan tes antibodi sebagai standar untuk mengukur efektivitas vaksin.

"Dan kita nggak tahu reagen-reagen yang dipakai itu dia mengukur titer antibodi yang mana, karena nggak semua antibodi memberikan perlindungan. Yang memberikan perlindungan, neutralizing antibody," tegas Prof Hindra.

"Kekebalan itu bukan cuma antibodi saja, ada kekebalan seluler yang biasanya diperiksa pada waktu clinical trial (uji klinis)," pambah Prof Hindra.

Lalu bagaimana para ilmuwan mengukur efektivitas vaksin Corona?

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir dalam kesempatan yang sama membagikan pengalamannya sebagai relawan uji klinis. Menurutnya, rangkaian pemeriksaan antibodi dalam darah dilakukan beberapa kali, sebelum dan sesudah penyuntikan, baik vaksin maupun plasebo. Hasilnya, lalu dibandingkan.

"Kalau seandainya sekarang kita melakukan uji antibodi tersebut, mau dibandingkan dengan data apa?" jelas Honesti.

Tes antibodi yang beredar di pasaran tidak akurat dan tidak bermanfaat. Simak penjelasannya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Cerita Warga yang Kesulitan Dapatkan Vaksin Dosis Kedua"
[Gambas:Video 20detik]