Sabtu, 22 Mei 2021 14:15 WIB

Ngetren Tes Antibodi Setelah Vaksin COVID-19, Fungsi Sebenarnya untuk Apa?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tes serologi merupakan pemeriksaan untuk mengetahui antibodi dalam darah. Tes ini diketahui dapat menjadi acuan untuk deteksi awal indikasi infeksi virus Corona Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Belakangan muncul tren baru. Beberapa orang berinisiatif melakukan tes antibodi, dipercaya bisa untuk melihat efek vaksin COVID-19. Namun para pakar menilai, tes ini tak perlu dilakukan lantaran tak bermanfaat. Memangnya, apa itu sebenarnya tes antibodi?

Ahli patologi klinik Universitas Sebelas Maret dr Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD, FISQua menjelaskan, tes antibodi berfungsi mendeteksi terjadinya serokonversi yang menandakan tubuh pernah terinfeksi virus Corona.

Fungsi lainnya adalah untuk mengetahui potensi kekebalan terhadap infeksi COVID-19 dan melihat kemampuan tubuh dalam menetralisasi virus Corona. Namun untuk tujuan ini, prosesnya tidak sesimpel yang dibayangkan.

"Perlu tidaknya (tes antibodi) tergantung pemahaman yang tepat. Bila belum paham, sebaiknya tidak tes, daripada jadi galau," terangnya saat dihubungi detikcom, Jumat (21/5/2021).

Ia menjelaskan, ada bermacam-macam antibodi yang bisa terbentuk setelah seseorang terinfeksi COVID-19 karena protein virus pun beragam. Yang utama antara lain N, S, E, dan M. Di luar itu kemungkinan masih ada protein lain, namun sifatnya belum banyak diteliti.

Ada pula antibodi yang tak mampu berikatan dengan virus. Misalnya, antibodi N karena bagian ini berada di dalam virus dan baru bekerja jika virus sudah masuk ke dalam sel tubuh.

"Bila maksudnya untuk menguji apakah pernah terinfeksi, umumnya kita gunakan tes yang mendeteksi antibodi N. Begitu juga kalau misalnya tes antigen, umumnya mendeteksi protein N dari virus," jelas dr Tonang.

"Bila maksudnya untuk menguji potensi netralisasi, maka tes yang paling tepat adalah PRNT (Plaque Reduction Netralization Test). Intinya serum kita langsung diuji terhadap virus hidup, seberapa mampu menetralisasinya. Uji ini ideal, tapi relatif perlu teknik, waktu dan terutama keamanan karena harus menggunakan virus hidup," lanjutnya.

Menurutnya, hingga kini belum ada patokan baku batas minimal antibodi yang protektif. Ia menyarankan, jika ingin tes antibodi, pahami benar dulu fungsinya.

"Tapi kalau merasa belum paham, dan belum siap mental, maka memang sebaiknya tidak periksa antibodi. Agar tidak justru menjadi bingung sendiri," pungkas dr Tonang.

Hmmm... tambah bingung? Tenang, tidak perlu ikut pusing. Sebenarnya, para ilmuwan sudah memikirkan semuanya ketika melakukan uji klinis vaksin COVID-19 terhadap ribuan relawan di berbagai negara. Vaksin yang sudah mendapat izin penggunaan oleh otoritas berwenang, dipastikan sudah lulus uji tersebut.



Simak Video "Vaksin COVID-19 Efektif Minimalisir Kemungkinan Tertular COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)