Jumat, 04 Jun 2021 22:35 WIB

Ragam Drama Sunat Masa Lalu, Diiris Pakai Bambu hingga Ditutupi Tudung Saji

Vidya Pinandhita - detikHealth
Bulan Juni merupakan masa liburan panjang bagi anak-anak sekolah. Tak sedikit acara sunatan massal mulai marak digelar, seperti yang dilakukan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk, dalam rangka melaksanakan CSR bagi masyarakat sekitar di Halim Perdanakusumah, Jakarta. File/detikFoto. Ilustrasi sunat (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta -

Jauh sebelum ada beragam fasilitas dan teknik sunat medis maupun nonmedis, khitan terkait erat dengan cerita penuh drama. Mulai dari metode yang ekstrem hingga masa pemulihan yang lama dan menyakitkan.

Salah satunya dikisahkan Pras, seorang pria di Jakarta. Semasa kecil ketika hendak disunat, ia diingatkan terus-menerus oleh orang tua untuk tidak berlari-larian selama beberapa hari sebelum khitan. Masyarakat di masanya percaya bahwa jika anak berlarian sebelum disunat, darah yang keluar akan semakin banyak.

Begitu pun setelah sunat. Ia mengisahkan, penisnya ditutupi tudung saji setelah sunat agar tak tergesek-gesek sarung.

"Malam hari setelah sunat, ibuku menutupi penisku dengan tudung saji, lalu diselimutin agar luka sunatnya tidak terkena gesekan sarung," kisahnya pada detikcom, Kamis (3/5/2021).

"Sampai pagi keluargaku bergantian duduk di samping aku yang sedang tidur. Sambil terus berjaga agar penisku aman, tidak tersentuh atau tergaruk tanpa sadar, hingga luka sunatku mengering," lanjutnya.



Disunat pakai bambu oleh masinis

Pras mengisahkan, dirinya disunat kala berusia 10 tahun, tepatnya pada 1978. Belum banyak praktik sunat medis, sehingga ia disunat oleh 'dukun sunat'. Biasanya, seorang dukun sunat juga menjalani profesi lain yang jauh dari urusan sunat-menyunat. Kala itu, dirinya disunat oleh seorang masinis.

"Metode sunat yang dipakai tidak menggunakan gunting, melainkan bambu. Aku tidak dibius. Sambil duduk mengangkang, sarungku disingkap ke kepala jadi aku tidak bisa melihat," imbuhnya.

"Kala itu hampir semua teman-temanku mendapat hadiah sepeda setelah disunat. Hal ini menciptakan pola pikir terbalik di antara teman-teman seusiaku. Mereka percaya kalau ingin dapat sepeda, cepatlah disunat," pungkas Pras.



Dalam budaya di kota asal Pras, yakni Cirebon, hajatan khitan umumnya diiringi ritual menyembelih ayam. Sembari melakukan pemotongan kulit penis, sang dukun menyerukan kata "bela" diikuti para saksi. Setelah terdengar seruan tersebut, petugas pemotong ayam segera menyembelih.

Jumlah ayam yang dipotong menunjukan tingkat kekayaan orang tua dari anak yang disunat. Semakin kaya, semakin banyak jumlah ayam disembelih. Setelahnya, ayam tersebut dimasak bekakak bakar dan disajikan pada kerabat dan tetangga yang hadir.



Simak Video "Sunat ala 'Bengkong' Betawi, Prosesnya Diklaim Cuma 2 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)