Senin, 07 Jun 2021 16:01 WIB

Ngilu! Potongan Kurang Presisi, Pria Ini Harus Jalani 'Sunat Revisi'

Vidya Pinandhita - detikHealth
Bulan Juni merupakan masa liburan panjang bagi anak-anak sekolah. Tak sedikit acara sunatan massal mulai marak digelar, seperti yang dilakukan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk, dalam rangka melaksanakan CSR bagi masyarakat sekitar di Halim Perdanakusumah, Jakarta. File/detikFoto. Ilustrasi momen sunat. (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta -

Jauh sebelum beragam fasilitas sunat medis muncul, laki-laki baik bocah atau dewasa harus 'berjuang' menjalani prosedur khitan tanpa dibius lebih dulu. Tak heran, momen sunat membekaskan beragam kenangan, dari yang pahit, kocak, sampai unik bukan main.

Dalam sebuah polling oleh akun Twitter detikHealth, pemilik akun @HerdimanDimDim mengaku pernah disunat 2 kali.

"Saya mengalami 2 kali sunat..." cuitnya.

Kok bisa? Pria yang tak mau disebut identitasnya tersebut menceritakan kisah pilunya tersebut kepada detikcom.

"Sekitar tahun 1973, saat itu usia saya sekitar 6 tahun, baru mau masuk TK. Domisili saya di Banjar, Jawa Barat. Karena tradisi di kampung anak kecil sudah harus disunat, jadi kami melakukan sunat atau khitan secara tradisional," terang @HerdimanDimDim, Senin (7/6/2021).

"Prosesi berjalan lancar, walaupun tanpa bius bayangkan betapa perih dan sakit disunat menggunakan sembilu, atau kulit bambu. Pelakunya 'smiling face with open mouth and tightly-closed eyes', paraji asal Cikotok letaknya kawasan Ciamis yang dipanggil datang," lanjutnya.

Derita @HerdimanDimDimtak sampai di situ. Beberapa tahun kemudian, ia sadar bahwa potongan kulit di penisnya tak sempurna. Lantaran kulit yang dipotong kurang banyak dan tidak dijahit sebagaimana metode sunat tradisional, kondisi penisnya masih tertutup. Mau tak mau, ia menjalani sunat ulang alias 'revisi' di sebuah klinik di Jakarta.

Meski tak ada keluhan rasa sakit, ia mengaku potongan sunat yang tak tuntas ini membuat air kencingnya berantakan tak berarah. Mau tak mau, ia menjalani sunat ulang alias 'revisi' di sebuah klinik di Jakarta.

"Secara menurut orang orang tua dulu, kalau masih ketutup itu namanya kulup dan tidak sah. Kotoran masih bisa sangkut, makanya reply cutting. Hahaha," katanya.

Di kalangan dokter bedah, sunat revisi sebenarnya bukan hal yang asing. Sunat ulang bisa dilakukan karena potongan kulit penis yang kurang banyak pada prosedur sunat pertama, atau pasien yang terlalu banyak gerak sampai-sampai potongannya tak rapi.

Ada pula dokter yang meyakini bahwa kulit kulup yang tersisa pasca sunat bisa menimbulkan iritas atau infeksi, sehingga harus dilakukan sunat ulang. Infeksi tersebut dipicu oleh kulit kulup yang tersisa menempel pada penis akibat tumpukan smegma (kotoran penis).



Simak Video "Sunat ala 'Bengkong' Betawi, Prosesnya Diklaim Cuma 2 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)