Minggu, 06 Jun 2021 18:49 WIB

'Pangkas' Mr P ala Bengkong Betawi, Diklaim Cepat Kering Meski Tanpa Perban

Vidya Pinandhita - detikHealth
Bulan Juni merupakan masa liburan panjang bagi anak-anak sekolah. Tak sedikit acara sunatan massal mulai marak digelar, seperti yang dilakukan PT Garuda Indonesia (persero) Tbk, dalam rangka melaksanakan CSR bagi masyarakat sekitar di Halim Perdanakusumah, Jakarta. File/detikFoto. Ilustrasi momen sunat. (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta -

Meski makin tergeser oleh sunat medis dengan berbagai metode yang lebih modern, 'bengkong' alias tukang sunat tradisional Betawi rupanya masih diandalkan sebagian masyarakat. Salah satunya adalah Bengkong Si Pitung, yang mengaku rutin kebanjiran pasien tiap musim libur sekolah.

Padahal bukan rahasia lagi, teknik sunat ini langsung potong tanpa bius. Kok masih ada saja ya peminatnya, apa nggak sakit?

"Dibanding hari biasa, kalau hari biasa seminggu 2-3 kali. Kalau liburan, satu hari di atas 3 orang begitu. Plus kalau Muharram, biasanya ada sunat massal bisa sampai 20-30 orang sehari misalnya," terang Mahfuz Zayadi, juru sunat di 'Bengkong Si Pitung' saat ditemui di tempat praktiknya di kawasan Mampang Prapatan, Jumat (5/5/2021).

Mahfudz mengaku, rutin menerima pasien sunat setiap hari. Di bawah pukul 6 pagi, pasien datang ke rumahnya. Tanpa perlu buat janji lebih dulu, pasien bisa langsung datang dan langsung menerima tindakan penyunatan di kursi kayu teras rumah Mahfudz. Klaimnya, tindakan sunat ala Mahfudz hanya membutuhkan waktu 2 menit.

"Nanti kalau bilang cepat, takabur. Itu di pagar tulisannya ada, Insyaallah nggak sampai 2 menit. Tapi itu saya anggep lama termasuk. Tapi ya begitulah kerja saya tardisional," katanya.

Sedangkan di atas pukul 6 pagi, Mahfudz biasa melayani panggilan sunat rumah ke rumah di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Tanpa bius, kenapa bisa ramai pasien?

Mahfduz menjelaskan, urutan tindakan sunatnya memang berbeda dengan teknik sunat medis yang dilakukan dokter. Sunat yang dilakukannya tidak memakai bius, gunting, maupun jahit. Mahfudz langung saja menjepit dan memotong kulit ujung penis.

"Kalau saya tradisional, langsung saja. Dibuka, ambil ujungnya, dijepit, langsung potong. Makanya singkatannya Sipitung (Jepit, Potong Ujung)," ujarnya.

Menurutnya, segala tindakan pemotongan, terlebih tanpa bius, tentu saja sakit. Namun menurutnya, yang membuat orang-orang masih mempercayai jasa sunat tradisional adalah proses pengeringannya yang disebut-sebut lebih cepat.

Pasalnya, Mahfudz tak menutupi luka bekas sunat pada penis dengan perban, kain, atau klem seperti halnya yang dilakukan dokter. Agar cepat kering, Mahfudz membiarkan penis terbuka hingga kering alami oleh tiupan angin.

"(Proses pemulihan pasca sunat) tergantung kondisi si anak. Setelah saya khitan, saya berikan obat untuk darahnya berhenti. Kalau sudah berhenti, saya anggap sudah 80 persen sembuh. Luka setelah pakai obat darahnya berhenti, tungguin apa lagi?" ujarnya.



Simak Video "Sunat ala 'Bengkong' Betawi, Prosesnya Diklaim Cuma 2 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)