Rabu, 09 Jun 2021 20:39 WIB

Round Up

BTS Meal Vs Lonjakan COVID-19, Waspadai Klaster McD!

Firdaus Anwar - detikHealth
Sejumlah ojek online (ojol) mendatangi McDonalds Raden Saleh, Jakarta, Rabu (9/6/2021). Ramainya antrean membuat terjadinya kerumunan di lokasi ini. Kerumunan BTS Meal di MacDonald (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Promo BTS Meal di gerai restoran cepat saji McDonald's mengundang kerumunan antrean pembeli. Otoritas di beberapa kota bergerak menutup gerai yang ramai, sementara pihak manajemen McDonald's mengungkapkan permintaan maaf.

"Kami sangat berterima kasih atas antusiasme masyarakat yang sangat besar akan BTS Meal. Perihal penutupan sementara beberapa gerai McDonald's, keselamatan dan keamanan konsumen dan pelanggan adalah prioritas McDonald's Indonesia, penutupan dilakukan untuk sementara waktu, demi menghindari kerumunan antrian drive thru dan pembelian delivery. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar Sutji Lantyka, Associate Director of Communication McDonald's Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (/9/6/2021).

Ramainya kerumunan pembeli BTS Meal ini mendapat sorotan pakar kesehatan. Ini karena situasi pandemi COVID-19 di Indonesia sedang dalam masa genting.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, mengatakan jumlah pasien positif COVID-19 yang dirawat di rumah sakit mulai mengalami peningkatan. Diduga ini adalah dampak dari libur Lebaran yang mulai terlihat.

Tingkat keterisian tempat tidur di Bandung, Kudus, Demak, Semarang, dan beberapa kota lainnya dilaporkan telah mencapai sekitar 80-90 persen.

"Perusahaan-perusahaan itu mesti sensitif, kalau kira-kira menimbulkan kerumunan mesti diclose. Terus terang ini berbahaya dan sense of crisis kita kurang untuk hal ini," kata Prof Ari pada detikcom, Rabu (9/6/2021).

Prof Ari menyarankan agar pemerintah dan Satgas COVID-19 bertindak cepat menginjak 'rem' darurat. Ia menyarankan daerah dengan lonjakan kasus, seperti misalnya DKI Jakarta, kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurut Prof Ari, ada kemungkinan kondisi pandemi beberapa hari ke depan akan jadi lebih buruk dari puncak gelombang pertama pada bulan Januari-Februari lalu. Bahkan bisa saja situasi yang sama seperti di India terjadi di Indonesia bila tak segera ada tindakan.

"Prediksi saya, kita bisa lebih parah dari bulan Januari-Februari. Seluruh Indonesia kasusnya sudah mulai menanjak naik tapi kita masih ramai... Indonesia bisa jadi India kedua karena kita enggak ada sense of crisis," pungkasnya.



Simak Video "Kericuhan Driver Ojol di McD Duren Sawit karena Antrean BTS Meal"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)