Kamis, 10 Jun 2021 20:50 WIB

Deteksi dan Cara Menangani Hipospadia, Kelainan Langka pada Bayi Laki-laki

Ardela Nabila - detikHealth
Female and male sex icon. Symbol of men and women. Gender symbol pink and blue icon Foto: Getty Images/iStockphoto/Tatyana Olina
Jakarta -

Hipospadia merupakan kelainan bawaan lahir langka yang terjadi pada alat kelamin laki-laki. Laki-laki yang mengalami kondisi ini akan mengalami kesulitan untuk berkemih.

Ketika dewasa, hipospadia bisa menyebabkan terganggunya hubungan seksual. Oleh sebab itu, dibutuhkan deteksi dini untuk menangani kondisi ini agar tidak berdampak panjang.

Menurut konsultan dokter spesialis urologi dari Siloam Hospitals ASRI, dr Arry Rodjani, SpU (K), hipospadia ditandai dengan lubang saluran kencing yang tidak berada di ujung penis, tetapi berada di bagian bawah batang penis.

Selain itu, kondisi langka ini juga bisa dilihat dari kulit kulup yang tidak menutupi penis sampai ke bawah, melainkan hanya di bagian atas.. Saat ereksi, penis juga akan terlihat bengkok.

"Kalau dibiarkan sampai anak besar, akan sulit sexual intercourse dan anak akan buang air kecil (BAK) harus duduk karena kalau sambil berdiri akan membasahi celananya," ujar dr Arry, dikutip dari HaiBunda.

Hipospadia sendiri dapat disebabkan oleh banyak faktor, yaitu faktor genetik, endokrin, serta lingkungan. Faktor genetik kondisi langka ini terjadi 10 persen pada kasus ini. Adapun faktor lain penyebab hipospadia, yakni berat badan lahir rendah.

Meski demikian, kelainan ini tidak menimbulkan rasa sakit. Hanya saja, akan menyebabkan anak mengalami gangguan saat berkemih. Dampak panjang dari kondisi langka ini adalah adanya gangguan fungsi reproduksi, infertilitas, dan psikologis apabila tidak ditangani dengan benar.

"Prevalensinya ditemukan 1 dari 200-300 kelahiran bayi laki-laki. Di Indonesia sendiri belum ada studi epidemiologinya," jelas dr Arry.

dr Arry juga menjelaskan bahwa hipospadia dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Namun, lokasi anatomi dari ujung lubang saluran kemih mungkin tidak terlalu cukup untuk menjelaskan tingkat keparahan dan sifat kompleks dari penyakit ini.

"Perlu juga mempertimbangkan panjang penis, ukuran, bentuk, kualitas lempeng saluran kemih, dan derajat kelengkungan penis," lanjutnya.

Dalam penanganannya, hipospadia bisa ditangani melalui operasi yang idealnya bisa dilakukan saat anak berusia 6-24 bulan. Operasi rekonstruksi ini memiliki tujuan fungsional dan kosmetik.

Secara fungsional, penis nantinya akan dibuat menjadi lurus dan lubang saluran kemih akan dibuat hingga mendekati ujung penis guna menghindari masalah ereksi dan mengatasi masalah berkemih. Sedangkan secara kosmetik, operasi ini bertujuan untuk membuat bentuk penis seperti penis yang sudah disunat

Hipospadia sendiri sebenarnya bisa dideteksi sejak dini, lho. Bagaimana cara mendeteksinya?

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Mikro Lockdown, Strategi Kemenkes Tekan Laju Lonjakan Covid-19 "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)