Minggu, 18 Jul 2021 14:00 WIB

Azithromycin Banyak Dipakai Sembarangan Saat Isoman COVID-19, Ini Bahayanya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Obat COVID-19 Ilustrasi. (Foto: Fuad Hashim)
Jakarta -

Dokter asal Amerika Serikat, dr Faheem Younus memperingatkan sederet bahaya obat azithromycin pada penggunaan terkait COVID-19. Pasalnya, pada penggunaan yang tidak tepat, bisa menyebabkan gangguan jantung fatal.

"Azitromycin tidak mencegah atau menyembuhkan varian COVID apa pun. Namun, dapat menyebabkan aritmia jantung yang fatal. Jangan diambil untuk COVID. Ini memiliki lebih banyak risiko daripada manfaat," terangnya, dikutip dari akun Twitter resminya @FaheemYounus, Minggu (18/7/2021).

Dikutip dari penelitian The Lancet, azithromycin adalah antibiotik dengan potensi antivirus dan anti-inflamasi. Obat ini telah digunakan untuk mengobati COVID-19, namun bukti dari uji coba masih kurang.

Maka, dilakukan penelitian terkait efektivitas azithromycin terhadap pengobatan COVID-19, khususnya pada orang-orang yang memiliki peningkatan risiko komplikasi.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 526 pasien rentan risiko dampak COVID-19 diberikan pengobatan dengan azithromycin, 862 pengobatan biasa, dan 823 intervensi medis. Hasil menunjukan, tidak ada perbedaan antara pasien penerima azithromycin dengan pengobatan lainnya dalam penyembuhan COVID-19.

"Kami tidak menemukan bukti manfaat pengobatan dalam kelompok azitromisin plus perawatan biasa dalam waktu pengurangan gejala pertama, waktu pengurangan gejala yang berkelanjutan, dan waktu pengurangan awal keparahan gejala," tulis riset tersebut.

Sebaliknya, riset tersebut menemukan bahwa peserta uji klinik mengalami efek samping azithromycin hingga mengundurkan diri dari penelitian. Namun, tidak ada penjabaran perihal bentuk efek samping yang dialami peserta.

Baru-baru ini, 5 perhimpunan profesi dokter spesialis Indonesia merevisi daftar rekomendasi obat terapi utama untuk pasien COVID-19. Di antaranya, oseltamivir dan azithromycin. Dalam Tatalaksana COVID-19 disebutkan, azithromycin hanya diberikan jika ada kecurigaan koinfeksi mikroorganisme atipikal.

Namun dalam paket obat gratis yang dijanjikan pemerintah, 2 obat tersebut termasuk dalam paket untuk pasien COVID-19 isoman bergejala.


Dalam kesempatan lainnya, dokter spesialis paru dan staf pengajar Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indoensia (FKUI), dr Rara Diah Handayani, SpP(K) menyebut, perubahan rekomendasi obat normal terjadi menyesuaikan hasil evaluasi dan bukti klinis seiring penggunaan obat.

Informasi terkait penggunaan obat oleh pasien COVID-19 masih berkembang hingga kini. Maka itu, ia menyarankan agar obat-obat tersebut hanya dikonsumsi jika pasien COVID-19 mengantongi anjuran dokter.

"Intinya akan lebih baik jika kita benar-benar berkonsultasi kepada ahli sebelum mendapatkan terapi," terangnya dalam diskusi daring, Jumat (16/7/2021).

"Memang kadang-kadang di berbagai negara itu variasi mana yang diambil. Beberapa negara di Eropa tidak menggunakan fapiviravir, tidak menggunakan oseltamivir, juga tidak menggunakan remdesivir. Tapi dia menggunakan beberapa antivirus yang lain. Jadi memang disesuaikan dengan keputusan masing-masing negara. Biasanya dilakukan dulu evaluasi," pungkasnya.

Pendapat lainnya disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr dr Sally Aman Nasution, SpPD K-KV FINASIM, FACP. Menurutnya, data penggunaan azithromycin tak membuktikan adanya efek antiinflamasi yang cukup kuat.

"Untuk oseltamivir dan azithromycin sebenarnya masih ada tapi dimasukkan pada terapi tambahan. Jadi tidak rutin diberikan," jelas Dr Sally kepada detikcom lewat pesan singkat, Kamis (15/7/2021).



Simak Video "Pfizer Klaim Obat Covid-19 Buatannya Turunkan Rawat Inap-Kematian"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)