Selasa, 27 Jul 2021 12:48 WIB

Anies Klaim DKI Jauhi Masa Genting, IDI Akui Ada Penurunan BOR COVID-19

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengklaim, sejumlah IGD RSUD di Jakarta kini lengang dari pasien COVID-19. Hal tersebut ia paparkan dalam unggahan pribadinya, Senin (26/7/2021).

"Alhamdulillah, atas izin Allah dan sejak kita semua sama-sama mengurangi mobilitas, situasi pandemi di Jakarta terus mengalami penurunan dan insyaallah bisa keluar dari masa genting, terlihat dari keterisian IGD berbagai rumah sakit di Jakarta," kata Anies.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr Adib Khumaidi, SpOT membenarkan kabar penurunan kasus COVID-19 di Jakarta. Menurutnya, hal tersebut bisa dilihat dari penurunan angka keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR).

Berdasarkan data sementara hingga 17 Juli 2021, IDI mencatat penurunan bukan hanya di DKI Jakarta. Melainkan juga beberapa kota lain seperti Semarang, Kudus, dan Pati. dr Adib menambahkan, data ini masih dalam proses kumulasi dan konfirmasi.

"Semarang bahkan BOR-nya sudah kemarin sampai 92 persen, sekarang 66 persen. Jakarta BOR-nya memang 76 persen, turun dengan ICU yang turun 85 persen BOR-nya. Memang ada beberapa penurunan. Kami dapat laporan juga di Bekasi, Tangerang juga mengalami penurunan," terang dr Adib dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/7/2021).

Akan tetapi, sejumlah kota baik di Jawa atau luar Jawa masih melaporkan peningkatan kasus. Menurut dr Adib, sebelum ada angka konkret terkait jumlah penambahan kasus, peningkatan tersebut terepresentasi dari meningkatkan permintaan (demand) akant tabung oksigen.

"Tapi masih ada juga peningkatan di Yogyakarta, Solo, bahkan sudah meningkat kasus di luar Jawa (seperti) Jambi, Kalimantan Selatan, Kendari. Itu sekarang sudah ada peningkatan kasus," ujarnya.

"Salah satu indikator yang bisa kita lihat adalah pada saat dalam 1 wilayah, itu sudah mulai ada permasalahan oksigen. Salah satunya, sederhananya saja, kemarin 2 hari lalu mulai dari teman-teman Kalimantan Selatan ada masalah oksigen. Kalau ada peningkatan kebutuhan oksigen, suplainya berarti demand-nya tinggi. Pasiennya tinggi, ternyata benar di daerah Kalimantan Selatan ada peningkatan kasus," pungkas dr Adib.

(vyp/up)