Minggu, 22 Agu 2021 10:00 WIB

Cerita Dokter Soal Pengalaman KIPI Vaksin Sinovac Vs Moderna, Beneran Nampol?

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Vaksin dosin ketiga atau booster diberikan untuk tenaga kesehatan di Puskesmas Cilincing, Jakarta Utara, Senin (9/8). Vaksin yang diberikan adalah vaksin Moderna. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Beberapa waktu lalu viral cerita nakes di TikTok yang menceritakan pengalamannya setelah disuntik vaksin Moderna dan merasakan efek samping lebih 'nendang' dibanding jenis vaksin COVID-19 lain.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Andi Khomeini Takdir, atau akrab disapa dr Koko mengaku juga merasakan gejala yang lebih berat setelah disuntikkan vaksin Moderna. Setelah disuntik vaksin Sinovac gejala yang dirasakan dr Koko, seperti mengantuk, lapar dan sempat menggigil 1 sampai 2 hari setelah suntik dosis 2 Sinovac.

"Nah kalau di Moderna itu saya merasakan memang gejalanya berasa lebih berat ya dan lebih beratnya itu dalam konteks, badan itu rasanya senut-senut, ngilu. Memang levelnya di atas dari yang saya rasakan pada saat disuntik Sinovac," ungkap dr Koko dalam program e-Life detikcom, Jumat (20/8/2021).

Lebih lanjut, dr Koko menjelaskan hal ini terjadi sebab ada perbedaan platform atau cara pembuatan antara vaksin Sinovac dan Moderna. Vaksin Sinovac terbuat dari virus yang sudah dimatikan, sedangkan vaksin Moderna dan Pfizer menggunakan teknologi mRNA.

"mRNA ini adalah semacam asam inti dari virus tersebut, jadi dia tidak menyertakan seluruh komponen virus yang sudah mati, tapi dia hanya spesifik ke kode sandi dari virus tersebut, kayak passwordnya gitulah," papar dr Koko.

Selain itu, ia menegaskan bahwa efek samping dari vaksin atau disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) bukan hal normal terjadi pada setiap orang, meski banyak terjadi. Efek samping yang dirasakan seseorang harus dilaporkan ke Komnas KIPI agar program vaksinasi lebih aman.

"Jadi hal seperti ini [efek samping vaksinasi] harusnya tersimpan dalam database kita secara nasional dalam pantauan Komnas KIPI itu yang harus dielaborasi supaya semua orang menjadi lebih safe dalam program vaksinasi ini," kata dr Koko.

Apakah boleh seseorang mendapatkan vaksin yang berbeda antara vaksin dosis 1 dan 2?

dr Koko mengungkapkan hal ini masih menjadi persoalan. Sebab, mengacu pada surat Kementerian Kesehatan, direkomendasikan jenis vaksin yang digunakan antara vaksin dosis 1 dan 2 tidak berbeda. Misalnya, jika sudah mendapat dosis 1 vaksin Sinovac, maka dosis 2 juga vaksin Sinovac.

Namun, kenyataan yang ditemui di lapangan, ada kondisi tertentu yang menyebabkan sejumlah daerah mendapatkan jenis vaksin yang berbeda antara dosis 1 dan 2.

"Tapi sempat ada periode di mana teman-teman di daerah itu agak terlambat menerima [vaksin]. Dan ada juga kondisi tertentu di daerah yang kemudian pada periode pertama menerima Sinovac, tapi ada suntikan kedua yang mereka terima AstraZeneca," pungkas dr Koko.

dr Koko menegaskan bahwa tetap harus merujuk lebih dulu pada regulasi, tapi jika kondisi di lapangan tidak memungkinkan untuk mendapatkan jenis vaksin yang sama antara dosis 1 dan 2, maka diperbolehkan mendapatkan jenis vaksin berbeda.

"Jadi kita harus merujuk dulu pada regulasinya, tapi kemudian kita harus lihat juga kondisi lapangannya karena biar bagaimanapun kita tidak bisa menuntut kondisi yang terlalu ideal pada kondisi Indonesia sekarang, di mana stok vaksin itu terbatas dan distribusinya sendiri memang belum rata," ungkap dr Koko.



Simak Video "Respons Moderna Usai Swedia Cs Setop Sementara Penggunaan Vaksinnya"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)