Rabu, 08 Sep 2021 18:05 WIB

Beli Jamu Diet di Toko Online, Aman Nggak Sih? Ini Saran Profesor Jamu

Vidya Pinandhita - detikHealth
MinumaN sehat jamu. Agung Pambudhy/ilustrasi/detikfoto Diet dengan mengkonsumsi jamu diet aman nggak sih? (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Tak hanya dipercaya efektif mencegah infeksi virus Corona dengan nge-boost daya tahan tubuh, jamu kerap dikonsumsi sebagai obat diet atau penurun berat badan. Lantas, amankah produk-produk jamu diet yang diperjualbelikan online dikonsumsi secara bebas?

Akademisi dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan peneliti etnomedisin, Prof Dr Marina Silalahi, Spd, Msi menjelaskan pun jamu diet sudah beredar di lapak online, penggunaannya perlu dipantau lebih lanjut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Pertama adalah kalau dia sudah beredar di pasaran, pasti pertama lihat dulu izin BPOM-nya. Kemudian tapi kalau sudah ada izinnya pun, saya rasa itu sudah melalui serangkaian tapi di situ juga tetap harus ada minitoring dari BPOM. Misal sudah dikasih izin, apakah memang mempertahakan yang diregistrasi, atau mereka jangan-jangan menambahkan sesuatu yang ke situ penggunaan kimia," terangnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (8/9/2021).

Ia menerangkan pada dasarnya, jamu diet bekerja menekan napsu makan, bukan membakar lemak. Maka itu, penting untuk memperhatikan klaim khasiat jamu diet terkait efeknya terhadap penurunan berat badan.

"Yang pasti, pengaruhnya adalah menekan nafsu makan. Tumbuhan yang menghasilkan senyawa yang dapat menekan napsu makan," ujar Prof Marina.

"Atau bisa juga bukan membakar lemak tetapi senyawa yang bisa mempercepat metabolisme, penguraian karbohidratnya," sambungnya.

Terakhir ia menambahkan, jika jamu diet mengandung senyawa kimia, yang dikhawatirkan adalah senyawa tersebut bekerja menguras cairan sel. Hal tersebutlah yang sebenarnya berbahaya.

"Kalau senyawa kimia itu banyak itu sebenarnya dia bukan membakar lemaknya tetapi dia seperti ada yang merusak sehingga cairan sel yang keluar bukan lemaknya. Sehingga kelihatan lebih kurus tapi sebenarnya itu berbahaya," beber Prof Marina.

"Protein-protein yang seharusnya mengontrol masuknya senyawa ke dalam sel, malah itu yang dirusak," pungkasnya.



Simak Video "Progres 15 Penelitian Obat Herbal Sebagai Tambahan Terapi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)