Kamis, 23 Sep 2021 13:31 WIB

Ribuan Siswa Kena COVID-19 di Sekolah, Yakin Kasus Corona di RI Turun Drastis?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di Ibu Kota, masih tetap berjalan di tengah lonjakan COVID-19. Salah satunya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yamas, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyoroti munculnya klaster COVID-19 di sekolah usai pembelajaran tatap muka (PTM) kembali dilakukan. Ia pun mempertanyakan data yang menyatakan kasus Corona di Indonesia sudah menurun drastis usai melihat kasus ini.

Menurutnya, data penurunan kasus COVID-19 yang ada tidak sesuai dengan kemunculan klaster ini. Ia menyoroti kontradiktif atau ketidakseimbangan data, sehingga harus dievaluasi lagi oleh pemerintah.

"Ini ada kontradiktif antara data penurunan, angka reproduksi efektif turun di bawah 1, tes positivity rate di bawah 1, dengan fakta ini," kata Dicky pada detikcom, Kamis (23/9/2021).

"Berarti data itu sesuai dengan kecurigaan saya, nggak valid dan nggak didukung dengan 3T yang kuat. Karena ini membuktikan ketika deteksi dilakukan dengan benar, ya ketemu (kasus). Ini harus jadi introspeksi pemerintah," lanjutnya.

Dicky mengatakan rasa penasaran dan kekhawatirannya pada penurunan kasus yang drastis tanpa adanya testing yang memadai pun sudah mulai terjawab dengan bukti ini. Ia juga mengapresiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yang begitu cepat mengatasi hal ini dengan menguatkan mitigasi dan transparansi kasus.

"Ini yang tidak dilakukan di sektor lain. Dan sektor pendidikan ini bisa jadi contoh yang baik. Karena kalau pembukaan mal, tempat wisata semua dilakukan testing seperti ini banyak kok ketemu (kasus), bahkan akan jauh lebih banyak," jelas Dicky.

Bagaimana risiko penularan COVID-19 pada anak?

Dalam penjelasannya, Dicky mengungkapkan berdasarkan data epidemiologi global kasus penularan Corona pada anak sebenarnya kecil. Bahkan klasternya rata-rata hanya sebesar dua persen.

Ia pun mengatakan jumlah klaster COVID-19 anak di global tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Namun, ini bisa semakin banyak jika penerapan protokolnya kurang tepat.

"Berbasis data epidemiologi global, kalau penularan antar anak itu kecil, kecuali usia SMA ya. Tapi, kalau di bawah itu sangat amat kecil sekali dan klasternya itu 2 persen rata-rata. Dan menurut saya, angka kita juga tidak terlalu jauh, tidak ada beda yang signifikan," ujar Dicky.

"Yang harus dicari tahu itu adalah titik-titik lengahnya, karena riset di Israel atau Eropa, dan termasuk di sini, itu (klaster Corona anak) terjadi karena ada pengabaian protokol kesehatan terutama pada orang tua atau guru. Misalnya seperti mencopot masker, makan di luar,tidak divaksinasi, atau tidak enak badan tapi tetap masuk sekolah," terangnya.

Untuk itu, Dicky menyarankan agar kegiatan PTM di suspend sementara waktu untuk mencari sumber dari kasus penularan anak ini. Selain itu, para siswa dan guru harus dikarantina selama 2 minggu dan dilakukan 3T yang optimal.



Simak Video "Kasus COVID-19 Naik Lagi, Korea Selatan Temukan Klaster Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)