Rabu, 29 Sep 2021 14:40 WIB

Tumbuh Subur di Indonesia, Efek Kratom Disebut Serupa dengan Kokain

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sebagian besar masyarakat Kapuas Hulu mengantungkan hidupnya dari tanaman kratom, terlebih saat pandemi COVID-19. Tak terkecuali bagi Yohanes yus Ady, warga Bika, Kapuas Hulu. Kratom. (Foto: Rachman/detikcom)
Jakarta -

Tanaman kratom yang tumbuh subur di wilayah Indonesia ini lagi-lagi jadi polemik setelah diekspor ke Belanda. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalimantan Barat (Kalbar) mengekspor kratom sebagai komoditas bernilai tinggi, dari Pontianak menuju Belanda.

Hanya saja, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengklasifikasikan kratom sebagai salah satu jenis narkotika. Berdasarkan hasil identifikasi Puslab Narkoba BNN, kratom mengandung senyawa mitragyna dan 7-hidroksi mitragyna.

"Mengandung alkaloid yang mempunyai efek stimulan dan pada dosis tinggi mempunyai efek sedatif-narkotika. Memiliki efek serupa dengan kokain dan morfin," tulis BNN.

UNODC memasukkan kratom sebagai salah satu jenis NPS (New Psychoactive Substances) sejak tahun 2013. Kratom sendiri sudah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

Di Bengkulu, daunnya untuk meredakan sakit perut, diare, bengkak, sakit kepala. Masyarakat Sulawesi Barat menggunakan kratom untuk mengobati buang air besar berdarah dan bisulan.

Sementara di Kalimantan Timur, kulit batangnya untuk menghaluskan wajah, daunnya untuk perawatan nifas, menghilangkan lelah, dan pegal linu.

BNN mengatakan sudah lebih dari 100 tahun kratom dikenal memiliki sifat psikoaktif, efek seperti opioid, digunakan untuk mengobati kecanduan opium ataupun mengurangi withdrawal. Namun tanaman ini disebut menimbulkan halusinasi dan euphoria symptoms.

Efek kratom berdasarkan dosis

  • 1-5 gram : memberi efek stimulan (seperti kokain)
  • 5-15 gram : memiliki efek seperti opium
  • > 15 gram : kembali muncul efek stimulan


Simak Video "Peneliti Ragukan Kedewasaan Masyarakat Terkait Penggunaan Ganja"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)