Jumat, 01 Okt 2021 16:30 WIB

Pandemi Picu 'Resesi Seks' di Singapura, Kehamilan Malah Naik di Indonesia?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Corona di Indonesia. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

'Resesi seks' yang terjadi di Singapura memicu angka kelahiran warga menurun. Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura menjelaskan aktivitas seksual warga selama pandemi COVID-19 berkurang, salah satunya dikarenakan pembatasan mobilitas.

Ada beragam alasan di baliknya, baik terkait masalah kesehatan hingga faktor ekonomi. Badan kependudukan Singapura mencatat hanya ada 31.816 kelahiran di Singapura pada tahun 2020, 3,1 persen lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya 2019, yaitu 32.844.

Bagaimana di Indonesia?

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Hasto Wardoyo, SpOG (K) menyebut angka kelahiran di Indonesia tak jauh berbeda sejak sebelum pandemi. Dilaporkan peningkatan dan penurunan yang cukup dinamis setiap bulan.

Menurut Hasto, jumlah peserta keluarga berencana (KB) kini sekitar lebih dari 36 juta. Memang ditemukan beberapa peserta yang baru berhenti menggunakan KB.

"Penurunan rata-rata dengan adanya pandemi berkisar 5 persen, artinya ada sekitar 1,8 juta sampai dengan 1,85 juta bisa putus pakai kontrasepsi terutama di bulan April sampai dengan Mei 2020, awal pandemi," ungkap Hasto kepada detikcom Jumat (1/10/2021).

"Dari yang putus pakai ini bisa 15 sampai dengan 20 persen hamil di tiga bulan pertama, putus atau berhenti KB-nya. Kalau 20 persen dari 1,8 juta, ya artinya 360 ribu kehamilan," sebutnya.

Hasto kemudian memprediksi angka kelahiran di 2021 maksimal bertambah 400 ribu, dibandingkan 2020.

"Karena kalau hamil mulai April Mei 2020, maka akhirnya sekitar Januari, Februari 2021. Kita buktikan saja nanti hasil pendataan 2021," pungkas dia.

Angka kematian

Sementara, jika dilihat dari angka kematian selama pandemi COVID-19, total akumulatif kasus kematian Corona selama 19 bulan, berkontribusi 5 persen dari jumlah kasus meninggal per tahun biasanya.

"Dalam keadaan tanpa pandemi selama 19 bulan kematian kita sekitar 2,4 sampai dengan 2,5 juta. Bisa dihitung angka akumulatif kematian Corona 19 bulan 141.939 dibagi 2,5 juta dikali 100 persen. Jadi kontribusi COVID-19 sebagai penyebab kematian sekitar 5 persen dari kematian biasanya," sambung dia.



Simak Video "Menakar Probabilitas Level Covid-19 RI Turun dari Pandemi ke Endemi"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)