Sabtu, 02 Okt 2021 16:04 WIB

3 Hal yang Diduga Jadi Biang Kerok Kontaminasi Paracetamol di Laut Jakarta

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Warga sekitar mengaku tak mencium adanya bau obat di sekitar laut Muara Angke. Justru warga hanya mencium adanya aroma limbah solar. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: (Azhar Bagas Ramadhan/detikcom))
Jakarta -

Studi oleh sejumlah akademisi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan temuan kontaminasi paracetamol perairan Jakarta. Konsentrasi kontaminasi yang ditemukan juga cukup tinggi.

Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut, Zainal Arifin, mengatakan penelitian yang diterbitkan di jurnal Science Direct ini merupakan temuan awal yang masih harus diteliti lebih lanjut. Namun dia memaparkan kemungkinan penyebab kontaminasi paracetamol di laut Jakarta.

"Ada tiga kemungkinan. Pertama konsumsi berlebihan yang berlebihan oleh masyarakat di Jabodetabek," ujarnya saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/10/2021).

"Itu (paracetamol), sisanya kan akan terbuang melalui air seni atau feses kita masuk ke septic tank, sistem limbahnya kurang bagus," sambungnya.

Ada dua wilayah dengan tingkat cemaran paracetamol tinggi yakni Ancol dan Angke. Ada kandungan paracetamol sebesar 420 nanogram per liter di Ancol, sementara di Angke, kandungan paracetamol bahkan mencapai 610 nanogram per liter.

Selain itu, ia juga menyinggung limbah dari rumah sakit serta perusahaan farmasi. Kemungkinan, pengelolaan limbah dari kedua industri tersebut tidak berfungsi optimal sehingga mencemari lingkungan di sekitarnya.

"Jadi sisa-sisa obat itu masuk ke sungai kemudian ke pantai," bebernya.

Penelitian ini merupakan studi pertama yang menganalisis gambaran kualitas air laut dengan kontaminasi bahan kimia di perairan pesisir laut Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan parameternya juga melebihi batas Baku Mutu Air Laut Indonesia.



Simak Video "Seperti Apa Dampak Kontaminasi Paracetamol di Teluk Jakarta?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)