Peneliti Temukan Cemaran Paracetamol di Laut DKI Lebih Tinggi dari Negara Lain

ADVERTISEMENT

Peneliti Temukan Cemaran Paracetamol di Laut DKI Lebih Tinggi dari Negara Lain

Ayunda Septiani - detikHealth
Sabtu, 02 Okt 2021 18:28 WIB
Warga sekitar mengaku tak mencium adanya bau obat di sekitar laut Muara Angke. Justru warga hanya mencium adanya aroma limbah solar.
Muara Angke tercemar paracetamol. (Foto ilustrasi: (Azhar Bagas Ramadhan/detikcom))
Jakarta -

Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton UK merilis temuan dari hasil studi pendahuluan (preliminary study) terkait dengan kualitas air laut yang terkontaminasi oleh limbah buangan.

Studi ini dimuat dalam jurnal Marine Pollution Bulletin berjudul "High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia".

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa paracetamol terdeteksi di dua situs yaitu Muara Angke (610 ng/L) dan Sungai Ciliwung Ancol (420 ng/L). Konsentrasi paracetamol yang cukup tinggi membuat kekhawatiran terkait risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang terhadap organisme laut di Teluk Jakarta.

"Hasil penelitian awal yang kami lakukan ingin mengetahui apakah ada sisa paracetamol yang terbuang ke sistem perairan laut," papar Zainal Arifin, sebagai salah satu anggota tim peneliti dari BRIN, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Sabtu (2/10/2021).

"Kami melakukan dua lokasi utama, yaitu di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan. Konsentrasi paracetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi alat," lanjut Zainal.

Selain itu, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di negara lain, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta (420-610 ng/L) relatif tinggi dibandingkan di pantai Brazil (34. 6 ng/L), pantai utara Portugis (51.2 - 584 ng/L).

Meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut, beberapa hasil penelitian di Asian Timur, seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar oleh paracetamol menyebabkan peningkatan stress pada hewan, dan oxidative stress, yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.

Simak Video: Mengulik Dampak Cemaran Paracetamol di Teluk Jakarta

[Gambas:Video 20detik]



(ayd/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT