Sabtu, 09 Okt 2021 14:48 WIB

PM Singapura: Butuh Waktu 3-6 Bulan untuk Kembali Hidup Normal

Firdaus Anwar - detikHealth
Singapura kembali memperketat pembatasan imbas lonjakan jumlah kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Padahal hampir 3 minggu Singapura membuka roadmap hidup berdampingan dengan COVID-19. Foto: Getty Images/Ore Huiying
Jakarta -

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menjelaskan situasi COVID-19 di negaranya. Singapura diketahui sedang menghadapi lonjakan kasus COVID-19 dan kini kembali mengetatkan kebijakan pembatasan untuk mencegah kolapsnya sistem kesehatan.

Pada hari Jumat (9/10/2021), COVID-19 di Singapura mencapai rekor tertinggi dengan 3.590 kasus baru.

Lee mengatakan Singapura baru akan mencoba kembali melakukan pelonggaran saat kasus baru COVID-19 berhasil dikendalikan di angka ratusan. Kemungkinan akan butuh waktu sekitar 3-6 bulan sampai kebijakan "hidup normal" yang direncanakan sebelumnya bisa diterapkan.

"Saat beban di sistem kesehatan sudah mereda, kita bisa mulai melonggarkan kembali pembatasan. Tapi ini harus dilakukan hati-hati, jangan sampai memicu gelombang baru lagi," kata Lee seperti dikutip dari CNA, Sabtu (9/10/2021).

Kehadiran varian Delta disebut jadi penyebab lonjakan kasus di Singapura. Menurut Lee, pada akhirnya semua negara menghadapi kenyataan bahwa COVID-19 tidak bisa benar-benar dihilangkan meski dengan kebijakan yang ketat sekalipun.

"Bahkan dengan seluruh populasi sudah divaksinasi, kami masih belum bisa menghilangkannya dengan lockdown dan upaya manajemen keamanan. Hampir semua negara sudah menerima kenyataan ini," ungkap Lee.

"Mungkin saat ini masih belum terlihat, tapi kita sedang membuat langkah maju ke kehidupan normal yang baru," pungkasnya.



Simak Video "Situasi Lonjakan Covid-19 Singapura: Ada 15 Klaster Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)