Kamis, 04 Nov 2021 21:02 WIB

Studi Malaysia Ungkap Ivermectin Tak Ampuh Lawan COVID-19, Ini Hasilnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengundurkan diri setelah kehilangan dukungan mayoritas di parlemen, menyusul ketidakpuasan publik dalam cara pemerintah menangani COVID. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Getty Images/Annice Lyn)
Jakarta -

Malaysia menjadi salah satu negara yang melakukan studi Ivermectin untuk COVID-19. Hasil studi mereka menunjukkan Ivermectin tidak mengurangi risiko penyakit parah akibat COVID-19.

"Tidak dapat direkomendasikan untuk dimasukkan dalam pedoman pengobatan COVID-19 saat ini," tegas Kementerian Kesehatan Malaysia, dikutip dari Channel News Asia, Kamis (4/11/2021).

Direktur Jenderal Kesehatan Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan Kemenkes hanya akan merekomendasikan Ivermectin dalam studi klinis dengan pemantauan, mengutip hasil studi I-TECH oleh Institute for Clinical Research (ICR).

Penelitian dilakukan pada 500 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit dalam kategori uji klinis fase II dan III. Hal ini mengevaluasi efektivitas pengobatan Ivermectin yang diberikan selama lima hari.

"Studi uji klinis dilakukan oleh dokter penyakit menular dan klinisi yang terlibat aktif dalam penanganan COVID-19 bekerja sama dengan ICR di bawah National Institute of Health," ujarnya.

"Studi I-TECH ini untuk melihat apakah pemberian Ivermectin pada minggu pertama pada pasien bergejala COVID-19 dapat mencegah infeksi agar tidak semakin parah pada pasien berusia 50 tahun ke atas dan memiliki setidaknya satu penyakit penyerta."

Satu kelompok pasien diberi pengobatan Ivermectin, sementara kelompok lain diberikan perawatan standar berdasarkan pedoman kementerian kesehatan.

Peneliti utama Dr Steven Lim Chee Loon, spesialis penyakit menular dari Rumah Sakit Raja Permaisuri Bainun di Ipoh, mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan dalam pencegahan kasus COVID-19 ICU, penggunaan peralatan pendukung pernapasan, pemulihan gejala Corona, parameter tes darah dan X dada hingga x-ray scan antara dua kelompok.

"Kemungkinan untuk pulih sepenuhnya dari gejala pada hari kelima di antara kedua kelompok hampir serupa, di mana tidak ada perbedaan signifikan yang tercatat secara statistik," kata Dr Noor Hisham.

"Selain itu, analisis keamanan melaporkan terjadinya tiga kali lipat efek samping di antara kelompok (Ivermectin), dibandingkan dengan kelompok (standar perawatan), yang sebagian besar keluhannya adalah diare," sambung dia.

"Penelitian lokal ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada para praktisi medis di Malaysia dan masyarakat yang selama ini bertanya-tanya tentang khasiat Ivermectin dalam praktik pengobatan klinis COVID-19."

Dia juga mengingatkan praktisi medis untuk tidak merekomendasikan penggunaan Ivermectin, termasuk membagikan iklan atau penjualan ilegal Ivermectin untuk mengobati COVID-19, hingga bukti ilmiah yang lebih kuat tersedia.

"Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian skala besar seperti IVERCOR-COVID-19 dari Argentina dan TOGETHER dari Brasil yang tidak mendukung penggunaan rutin Ivermectin dalam praktik klinis pengobatan COVID-19," katanya.

Tim peneliti I-TECH berencana untuk menyerahkan data studi untuk publikasi dalam jurnal peer-review untuk memberikan informasi tambahan tentang studi Ivermectin, termasuk meta-analisis.



Simak Video "Malaysia yang Sudah Mulai Masuk Fase Awal Endemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
dMentor
×
Rahasia S3 Marketing di Media Sosial
Rahasia S3 Marketing di Media Sosial Selengkapnya