Minggu, 21 Nov 2021 17:19 WIB

Ngeri! Imbas Lonjakan COVID-19 di Eropa, Belanda Tunda Operasi Jantung

Vidya Pinandhita - detikHealth
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept Ilustrasi Belanda tunda operasi pasien kanker dan jantung akibat gelombang COVID-19. Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Imbas lonjakan kasus COVID-19 Eropa, operasi pasien kanker dan jantung di Belanda terpaksa ditunda. Pejabat kesehatan Belanda mengaku tengah mengosongkan ruang unit perawatan intensif selama gelombang rekor infeksi COVID-19.

"Pasien kanker yang sebenarnya harus dioperasi dalam waktu enam minggu setelah diagnosis tidak akan terpenuhi (operasi) dalam semua kasus. Begitu juga untuk pasien jantung," ujar juru bicara LCPS, organisasi nasional yang bertugas mengalokasikan sumber daya rumah sakit, dikutip dari Reuters, Minggu (21/11/2021).

"Ini mengerikan, tentu saja, untuk pasien," sambungnya.

National Institute for Health (RIVM) mencatat rekor lebih dari 23.000 kasus baru dalam 24 jam sebelumnya pada Kamis (18/11/2021), dibandingkan data tertinggi harian sebelumnya sekitar 13.000 yang dicapai pada Desember 2020.

Diketahui, unit perawatan intensif (ICU) diisi oleh 85 persen populasi orang dewasa yang divaksinasi. Sejauh ini, angka tersebut tetap lebih rendah daripada puncak gelombang COVID-19 pada April 2021, meskipun terdapat penundaan antara tanggal infeksi dan masuk rumah sakit.

Dengan kondisi kurang dari 200 tempat tidur yang tersisa di ICU Belanda pada Kamis (18/11/2021), rumah sakit kini berebut untuk menambah lebih banyak kapasitas.

Pada awal November 2021, pemerintah Belanda kembali menggaungkan aturan pemakaian masker di toko-toko. Akhir pekan lalu, pemerintah kembali memberlakukan penguncian sebagian (partial lockdown), termasuk menutup bar dan resto setelah pukul 8 malam.

Akan tetapi hingga kini, tindakan tersebut dinilai tidak berpengaruh pada penurunan jumlah kasus harian COVID-19 Belanda.

Di samping itu, Perdana Menteri Mark Rutte mengusulkan pembatasan akses ke tempat-tempat umum menggunakan 'Corona Pass' yang berfungsi menunjukkan bahwa mereka telah divaksinasi atau sudah sembuh dari infeksi COVID-19. Namun kritikus menilai, langkah tersebut bersifat diskriminatif dan bakal berimbas memecah belah.

Kemudian terkait sekolah yang tetap dibuka, ahli virus mengusulkan perpanjangan libur Natal untuk memperlambat infeksi. Mengingat, penularan virus Corona meningkat paling cepat di kelompok anak-anak.



Simak Video " Pakar Prediksi Gelombang Ketiga Covid-19 Akan Terjadi Usai Nataru"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)