ADVERTISEMENT

Selasa, 30 Nov 2021 13:19 WIB

Yakin Omicron Belum Masuk RI? Pakar Ini Yakini Sudah Ada 1-3 Kasus

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept Pakar menduga Indonesia sudah mencatat 1-3 kasus varian Omicron. (Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7)
Jakarta -

Ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai sangat mungkin varian Omicron muncul di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Terlebih, surveilans genomic saat ini disebut Dicky masih rendah, di bawah satu persen.

"Kemungkinan bahwa varian ini sudah ada atau terdeteksi setidaknya 1,2,3 (kasus) itu ya tentu ada, karena pertama kalau bicara ketika varian ditemukan iya bukan berarti pada hari itu dia benar-benar baru muncul, kan nggak seperti itu," beber Dicky saat dihubungi detikcom Selasa (30/11/2021).

Seperti diketahui, Afrika Selatan mengidentifikasi kasus varian Omicron per 11 November 2021. Mulai pertengahan November, jumlahnya terus meningkat bahkan diprediksi pekan ini kasusnya meledak, menembus tiga kali lipat.

Namun, Dicky menekankan kemungkinan besar varian Omicron sudah lebih dulu meluas dua hingga tiga pekan sebelumnya. Karenanya, sangat berpotensi sudah menyebar ke beberapa negara Asia, termasuk RI.

"Artinya lagi, pelaku perjalanan yang di beberapa kawasan atau negara dunia ini tentu sudah terjadi (varian Omicron) termasuk Indonesia, atau Asia lah, walaupun ini bisa berkurang risikonya dengan adanya menerapkan PCR sebelum dan saat kedatangan seperti saat ini, itu sudah mengurangi risikonya," sambung Dicky.

Aturan karantina hingga surveilans genomik rendah

Di sisi lain, Dicky juga menyoroti masa karantina yang diterapkan pemerintah saat tren kasus COVID-19 kian menurun. Sebelum akhirnya diketatkan kembali menjadi 7 hari, aturan karantina yang berlaku adalah tiga hingga lima hari.

"Dan kemudian juga kita harus juga menyadarisurveilans genomik kita itu juga relatif lemah, dengan 0,02 persen dari total kasus yang ada terus di-sequencing," tutur dia.

"Sehingga kemampuan kita mendeteksi keberadaan varian ini, memahami varian ini, sangat kurang," jelas Dicky sembari menekankan pemerintah perlu meningkatkan surveilans genomik setidaknya 1 persen dari total kasus.

Hal ini dikarenakan respons atau strategi pemerintah dalam menangani wabah menjadi serba terbatas karena kemungkinan tidak mendapat gambaran situasi dan kondisi yang tepat.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Eureka
×
Bumi di Akhir Zaman
Bumi di Akhir Zaman Selengkapnya