Kamis, 02 Des 2021 06:33 WIB

Sunat Perempuan Masih Marak Dilakukan, Ini 5 Risikonya Menurut Dokter

Akbar Malik - detikHealth
Proses sunat Kontroversi sunat perempuan (Foto: iStock)
Jakarta -

Sunat merupakan tindakan medis pemotongan sebagian kecil pada alat kelamin dengan tujuan kesehatan. Umumnya sunat dilakukan pada laki-laki. Meski begitu, banyak juga perempuan yang sejak bayi sudah disunat.

Lantas, bagaimana medis meninjau sunat pada bayi perempuan?

Dokter spesialis anak, dr Melisa Anggraeni, M Biomed, Sp A, mengatakan bahwa sunat sudah umum dilakukan masyarakat pada anak laki-laki atau perempuan. Namun, dr Melisa menjelaskan bahwa sebenarnya sunat hanya harus dilakukan pada laki-laki.

Sunat pada anak laki-laki bertujuan untuk menjaga kesehatan organ reproduksi. Manfaat dari sunat pada anak laki-laki antara lain menghilangkan kulit yang kotor, mencegah infeksi, dan mencegah risiko terjadinya kanker penis. Sedangkan praktik sunat bagi perempuan ternyata tidak memiliki manfaat apapun.

"Sunat pada perempuan ini sudah lama dilakukan, terutama di negara-negara Asia dan Afrika. Namun, dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sunat pada bayi perempuan ini sudah tidak dianjurkan secara medis," kata dr Melisa saat dihubungi HaiBunda, Senin (8/11/21).

Meski saat ini WHO memberikan rekomendasi bahwa perempuan tidak perlu disunat, sejumlah masyarakat daerah di Indonesia masih meyakini bahwa anak perempuan harus tetap disunat sebagaimana anak laki-laki.

"Tapi, memang ada beberapa orang atau suku tertentu di Indonesia yang masih melakukan tradisi sunat pada anak perempuan. Ada semacam kepercayaan bahwa sunat bisa menjaga libido atau hasrat seksualnya," lanjut dr Melisa.

Teknik sunat pada perempuan tidak berbeda jauh dengan sunat pada laki-laki. Caranya adalah dengan mengiris kulit bagian luar klitoris.

"Dulu, cara sunat pada anak perempuan ini ada yang sampai ekstrem, di mana kulit dari bagian luar klitoris dihilangkan seperti pada anak laki-laki. Ada juga yang hanya sekedar melukai bagian klitoris saja," ujar dr Melisa.

Siapa kira bahwa sunat pada perempuan tidak memiliki risiko? dr Melisa menjelaskan bahwa sunat pada perempuan justru menimbulkan lima risiko:

  1. Infeksi
  2. Meningkatkan risiko keputihan
  3. Meningkatkan risiko gangguan haid di kemudian hari
  4. Bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, hingga mengganggu hormon dan kegiatan seksual
  5. Pada teknik sunat ekstrem bisa menyebabkan pendarahan saat melahirkan secara normal di kemudian hari

"Sunat pada perempuan ini tidak ada kegunaan, sedangkan komplikasi atau risikonya lebih tinggi. Jadi, tidak dianjurkan lagi," kata dr Melisa.

Sementara itu, sebenarnya sunat pada bayi perempuan telah diatur dalam Peraturan Kementerian Kesehatan. Bagaimana pemerintah mengatur praktik sunat pada perempuan?

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Sunat ala 'Bengkong' Betawi, Prosesnya Diklaim Cuma 2 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)