Senin, 20 Des 2021 19:31 WIB

Kak Seto Ungkap 13 Persen Anak Indonesia Alami Depresi Selama Pandemi COVID-19

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Ketua Pembina Satuan Tugas Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi dalam diskusi bersama Jaringan Perlindungan Anak, organisasi keagamaan, ormas kepemudaan di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta, Jumat (9/10/2015). Agung Pambudhy/detikcom. Kak Seto singgung 13 persen anak alami depresi selama pandemi COVID-19. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang nyaris berlangsung selama dua tahun ini, ternyata memberikan dampak bagi kesehatan mental anak.

"Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan, sebanyak 13 persen anak mengalami depresi karena kurikulum belajar daring yang terlalu berat," ungkap dr Seto Mulyadi, S.Psi, M.Si, Ketua Umum LPAI dalam konferensi pers daring, Senin (20/12/2021).

Oleh karena itu, ia memohon kepada orangtua untuk lebih ramah terhadap anak dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

"Caranya dengan mendekati anak, berkomunikasi dengan bahasa anak. Seperti dengan dongeng, lagu, bercerita, ataupun bermain," tuturnya.

Lebih lanjut kak Seto juga menyebutkan, kurikulum darurat di masa pandemi COVID-19 sangat diperlukan guna mencegah anak mengalami depresi.

"Anak harusnya dibekali dengan kurikulum darurat yang isinya pembelajaran kehidupan. Kehidupan sendiri itu bukan sekedar IPTEK ya, tetapi juga tentang (pembelajaran) kesehatan. Kesehatan itu juga bukan sebatas fisik tetapi mental juga," tegas kak Seto.

Seperti yang diketahui, dalam Surat Edaran No 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19 disebutkan, kurikulum belajar daring tidak menuntut kurikulum kenaikan kelas atau kelulusan.

"Belajar daring difokuskan pada pendidikan kehidupan mengenai pandemi COVID-19," terangnya.



Simak Video "Pahami Lagi Perbedaan Endemi, Epidemi, dan Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(any/kna)