Senin, 20 Des 2021 20:33 WIB

COVID-19 Belum Kelar, China Dibikin Repot Munculnya Penyakit Ini

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
ilustrasi demam berdarah Di saat bersamaan dengan pandemi COVID-19, China juga harus berhadapan dengan endemi demam berdarahFoto: iStockphoto
Jakarta -

Memasuki musim dingin di awal Oktober kemarin, Xi'an, Provinsi Shaanxi, China, mencatat serangkaian kasus demam berdarah dengan tingkat kematian yang tinggi.

Dikutip dari The Global Times, Senin (20/21/2021), seorang anggota staf medis di unit infeksi Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Xi'an Jiaotong mengaku menerima banyak pasien demam berdarah dalam beberapa hari terakhir, tetapi pihaknya tidak bisa menerima pasien tersebut karena banyaknya pasien COVID-19 di rumah sakit itu.

Meski demam berdarah di China meningkat, para pakar kesehatan mengingatkan masyarakat untuk tidak panik karena vaksinasi demam berdarah, efektif mencegah dan mengendalikan penyakit tersebut.

Penyebab Demam Berdarah

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Shaanxi mengatakan, demam berdarah yang terjadi disebabkan oleh Hantavirus. Merupakan virus yang berkaitan erat dengan hewan sebagai sumber utama infeksi.

Infeksi dapat ditularkan melalui gigitan tikus, makanan atau air yang terkena tikus, dan berkontak darah, urin atau kotoran tikus.

Gejala Saat Terkena Demam Berdarah

Dalam penelitian yang dilakukan, diketahui penyakit ini menginfeksi para petani yang bekerja di ladang atau pekerja industri pertanian dan pengolahan makanan.

Gejala yang timbul saat seseorang terinfeksi antara lain flu, demam, pendarahan dan kerusakan ginjal, atau menyebabkan kematian pada kasus tertentu.

Pencegahan Demam Berdarah

Para ahli mengatakan, vaksinasi merupakan cara paling efektif dalam menangani epidemi demam berdarah. Orang berusia 16-60 tahun di daerah dengan insiden tinggi, terutama petani berusia 60-an dan pelajar berusia 16 tahun, harus aktif di vaksin demam berdarah.

Rekomendasi vaksin juga dikhususkan bagi warga yang hendak melakukan perjalanan ke daerah endemik untuk melakukan eksplorasi lapangan, pariwisata, pertanian dan kegiatan luar ruangan dalam jangka waktu panjang.

Para pakar medis menyarankan warganya untuk menghindari aktivitas di dekat air, rumput dan tempat lain di mana tikus mungkin muncul. Hal ini mencegah kontak dengan tikus dan polutan fesesnya.

Saran lainnya yakni menggunakan celana panjang, kemeja panjang, dan sepatu tertutup untuk mencegah gigitan tikus. Disarankan untuk menggunakan masker agar terhindar dari aerosol di area rumput liar atau jerami yang memungkinkan adanya urine serta kotoran tikus.



Simak Video "Perhatikan Gantungan Bajumu, Nyamuk Suka dengan Bau Manusia"
[Gambas:Video 20detik]
(any/kna)