WHO Kena Skandal Rasisme yang Libatkan Negara Tetangga RI

ADVERTISEMENT

WHO Kena Skandal Rasisme yang Libatkan Negara Tetangga RI

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jumat, 28 Jan 2022 16:00 WIB
Geneva, Switzerland - December 03, 2019: World Health Organization (WHO / OMS) Logo at WHO Headquarters
WHO tengah terlibat skandal terkait rasisme. (Foto ilustrasi: Getty Images/diegograndi)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini terlibat skandal terkait kasus rasisme. Isu ini melibatkan dewan eksekutif di WHO Filipina yang merupakan seorang dokter asal Jepang, Dr Takeshi Kasai.

Berdasarkan laporan Associated Press (AP) yang berasal dari narasumber yang mengaku telah mengalami situasi tidak baik di sana. Ia juga merasakan 'budaya intimidasi sistemik dan ejekan publik' yang dipimpin oleh Dr Takeshi Kasai itu.

Selain laporan, terdapat juga beberapa rekaman saat pertemuan di WHO Filipina itu. Di dalam rekaman tersebut terdengar Dr Takeshi Kasai membuat pernyataan menghina stafnya berdasarkan kewarganegaraannya.

Sebanyak 11 orang mantan atau yang saat ini masih menjadi staf WHO yang masih bekerja juga mengaku bahwa Dr Kasai sering menggunakan kata-kata yang rasis.

Diketahui, kasus skandal ini melibatkan beberapa negara tetangga Indonesia, seperti Malaysia, Filipina, dan China. Seorang staf asal Filipina mengaku dihina selama acara pertemuan, dengan pertanyaan seperti:

'Berapa banyak orang di Pasifik yang telah Anda bunuh sejauh ini dan berapa banyak lagi yang ingin Anda bunuh lebih lanjut?'

'Apakah dia tidak mampu memberikan presentasi yang baik karena dia orang Filipina?'

Selain itu, dalam laporan itu juga mengatakan bahwa peningkatan kasus COVID-19 di beberapa negara terjadi karena kurangnya kapasitas budaya, ras, dan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Bahkan mereka yang menjadi sasaran terkadang sampai menangis akibat komentar rasis dari Dr Kasai.

Tak hanya itu, tiga staf WHO di Asia yang menjadi korban mengatakan mendapatkan hinaan lainnya. Dr Kasas mengatakan dalam sebuah pertemuan bahwa respons COVID-19 ini terhambat karena kurangnya orang yang berpendidikan di Pasifik.

Lihat juga video 'Peraih Nobel-Aktivis Anti Rasisme Afsel Desmond Tutu Wafat':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT