Rabu, 02 Feb 2022 08:47 WIB

WHO Peringatkan Ancaman Lain bagi Dunia, Kali Ini Bukan soal COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Seorang dokter berdiri di dalam salah satu ruang modular di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020). Rumah Sakit darurat COVID-19 tersebut berkapasitas sebanyak 160 tempat tidur dalam ruangan dan 65 kamar isolasi bertekanan negatif untuk merawat pasien positif COVID-19 sesuai standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Jarum suntik bekas, alat uji bekas, dan botol vaksin bekas dari pandemi COVID-19 telah menumpuk untuk menghasilkan puluhan ribu ton limbah medis, mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan limbah medis tersebut, yang sebagian besar kemungkinan masih terkontaminasi COVID-19, berpotensi membahayakan petugas kesehatan.

Selain itu masyarakat yang dekat dengan tempat pembuangan sampah yang dikelola dengan buruk juga dapat terpengaruh oleh limbah tersebut melalui udara yang terkontaminasi dari pembakaran sampah, kualitas air yang buruk atau hama pembawa penyakit.

Dikutip dari laman CNA, laporan tersebut menyerukan reformasi dan investasi termasuk melalui pengurangan penggunaan kemasan yang menyebabkan timbunan plastik dan menginisiasi penggunaan alat pelindung yang terbuat dari bahan yang dapat digunakan kembali dan dapat didaur ulang.

Diperkirakan sekitar 87.000 ton alat pelindung diri (APD), atau setara dengan berat beberapa ratus paus biru, telah dipesan melalui portal PBB hingga November 2021 - sebagian besar diperkirakan berakhir sebagai limbah.

Laporan itu juga menyebutkan sekitar 140 juta alat uji COVID-19 memiliki potensi menghasilkan 2.600 ton sampah plastik dan limbah kimia yang cukup untuk mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade.

Selain itu, diperkirakan bahwa sekitar delapan miliar dosis vaksin yang diberikan secara global telah menghasilkan tambahan 144.000 ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.

Laporan WHO tidak menyebutkan contoh spesifik tempat penumpukan paling mengerikan terjadi, tetapi merujuk pada tantangan seperti pengolahan dan pembuangan limbah yang terbatas di pedesaan India serta sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas karantina di Madagaskar.



Simak Video "4 Fokus WHO dalam Merespons Kasus Cacar Monyet yang Terus Bertambah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)