Jumat, 04 Feb 2022 11:20 WIB

Bukan Mitos, Ikan Asin Bisa Picu Kanker! Tapi Penyebab Utama Tetap Rokok

Vidya Pinandhita - detikHealth
Nelayan Muara Angke mengaku produksi ikan asin menurun. Hal ini disebabkan penjemuran ikan yang terkendala karena musim hujan. Terlalu banyak konsumsi ikan asin berdampak buruk bagi kesehatan. (Foto: Rengga Sencaya)
Jakarta -

Hari Kanker Sedunia diperingati tanggal 4 Februari. Bertepatan dengan hal itu, dokter membagikan sederet kebiasaan masyarakat Indonesia yang tak disangka-sangka, rupanya memicu risiko besar terjadinya kanker. Salah satunya, konsumsi ikan asin. Mengapa demikian?

Hal tersebut disampaikan oleh spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi Dr dr Andhika Rachman, SpPD, KHOM, FINASIM, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ia menjelaskan, pemicu kanker nomor satu di dunia adalah merokok. Di Asia, termasuk Indonesia, pemicu nomor dua adalah konsumsi makanan berpengawet. Salah satunya, ikan asin.

"Sebenarnya sama hampir di seluruh bagian dunia seperti kanker paru, ini karena habit merokok. Merokok itu yang paling besar menyebabkan 99 persen terjadinya kanker paru pada pria kebanyakan. Sedangkan pada wanita tidak terlalu banyak. Itu yang paling sering," terang dr Andhika pada detikcom, Kamis (3/2/2022).

"Kita terbiasa makan ikan asin dalam jumlah banyak. Kemudian makanan berpengawet atau pewarna. Jadi seperti itu pengawet, penyedap rasa, kemudian termasuk pengawet di ikan asin. Jadi sebenarnya tidak hanya ikan saja, tapi yang diawetkan itu yang memiliki potensi untuk menjadi kanker," imbuhnya.

dr Andhika menjelaskan, memang tak selalu orang yang sering mengkonsumsi ikan asin bakal terkena kanker tenggorokan (nasofaring). Sebab untuk hidup, kanker memerlukan dua hal yakni gen dan lingkungan yang mendukung.

Namun pada makanan yang mengandung pengawet garam dalam jumlah besar, hidup virus bernama 'Ebstein-barr' atau yang biasa disebut EBV. Dalam jumlah konsumsi yang banyak, terutama dibarengi kebiasaan lain seperti merokok, EBV menyebabkan perubahan mutasi gen terutama di daerah saluran napas.

Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 281 orang dengan kanker nasofaring di RSCM, 70 persen pasien tersebut rutin mengonsumsi ikan asin. Pada sebagian besar di antaranya, hal tersebut juga dibarengi kebiasaan merokok.

"Kebanyakan mengkonsumsi jumlah ikan asin, dipengaruhi oleh berapa banyak dan berapa lama dia konsumsi ikan asin. Kebanyakan rata-rata mengkonsumsi dalam waktu 10 tahun dalam hidupnya, jadi memang lama. Memang dasar kita doyan ikan asin," terang dr Andhika.

"Terbanyak memang mengkonsumsi rokok juga. Ada beberapa yang bermakna menyebabkan perburukan dalam dua tahun. Mereka banyak mengkonsumsi rokok," pungkasnya.



Simak Video "Thailand Luncurkan Alat Tes Ganja"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)